Excerpt for Para Pahlawan Dahulu Kala (Indonesian Edition - Bahasa Indonesia) by , available in its entirety at Smashwords

Deskripsi di Sampul Belakang

Kolonel Mikhail Mannuki’ili dari Angkatan Khusus Malaikat terbangun dalam keadaan terluka parah di dalam kapalnya yang telah kandas tanpa memiliki ingatan apapun akan masa lalunya. Sang wanita dari Jaman Batu yang menyelamatkan nyawanya, Ninsianna, memiliki kemampuan untuk menyembuhkan yang luar biasa. Tapi siapa yang menembak jatuh Mikhail? Dan mengapa?

Ninsianna sejak dulu memiliki hubungan istimewa dengan sang dewi. Ia adalah turunan para dukun dan penyembuh. Ketika ia melarikan diri ke gurun untuk menghindari pernikahan paksa dengan putra Kepala Suku yang sombong, hal terakhir yang terbayang olehnya adalah seorang pria bersayap yang jatuh dari langit!

Sementara itu, di surga, empat spesies prajurit super yang direkayasa secara genetik kini terancam punah. Perdana Menteri Lucifer, anak angkat sang Kaisar, menyusun rencana untuk menggagalkan keinginan ayah abadinya itu.

Situasi hidup dan mati ini adalah bagian pertama dari kisah fantasi sains yang menceritakan kembali mitos para malaikat yang telah jatuh, kisah Pedang Para Dewa.


PARA PAHLAWAN DAHULU KALA

Saga Pedang Para Dewa

Episode 1x01

Oleh Anna Erishkigal

Bahasa Indonesia

Diterjemahkan oleh Levina Tjahjadi

Hak Cipta 2012, 2017 – Anna Erishkigal

Seluruh hak dilindungi oleh undang-undang



Daftar Isi

Deskripsi di Sampul Belakang

Daftar Isi

Kejadian 6:1-4

Prolog

Bab 1

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Bab 6

Bab 7

Bab 8

Bab 9

Bab 10

Preview: Pedang Dewata

Sebuah Catatan dari Anna

Buku 2 - Pedang Para Dewa

Bergabunglah dengan Kelompok Pembacaku

Bidak-bidak Catur

Daftar Spesies

Mohon Waktu Anda Sejenak…

Tentang Penulis Buku

Tentang Penerjemah

Pratinjau: 'Pelelangan'

Pratinjau: Malaikat Natal Gotik

Buku Lainnya

Hak Cipta


Kejadian 6: 1-4

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi,

Dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,

Maka anak-anak Allah melihat,

bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik,

Lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu,

siapa saja yang disukai mereka. [...]

Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi,

Dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah

Menghampiri anak-anak perempuan manusia,

Dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka;

Inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala,

orang-orang yang kenamaan.

.

Kejadian 6: 1-4



Prolog

Alam Baka

Kaisar Shay’tan

SHAY'TAN

Dua dewa tua itu membungkukkan badan di atas cakram berkilauan yang tergantung, melayang di udara, mempertimbangkan langkah mereka berikutnya. Itulah yang telah mereka lakukan sejak jaman dahulu kala, sang naga dan sang Kaisar Abadi. Dua musuh bebuyutan purbakala yang selamanya terjebak dalam sebuah permainan.

“Kau telah kehabisan bidak!”

Kaisar Shay’tan memindahkan posisi sebuah pion hitam; ia mengembangkan sayap merahnya yang berkulit kasar dan keras bak seekor predator yang siap menerkam. Musuhnya yang berjubah putih menggerakkan sebuah benteng putih untuk memakan pion tadi di atas galaksi yang berputar yang mereka gunakan sebagai papan catur.

“Bidak-bidak kerajaan lebih berharga daripada pion!” kata Hashem. “Mereka bisa mengalahkan pion-pion!”

“Ahhhh...” moncong Shay’tan berubah membentuk seringai buas. “Kau tak punya cukup respek bagi pion-pionmu. Tak peduli seberapa kuatnya bidak-bidak kerajaanmu, mereka tetap tak akan pernah cukup bagimu.” Ia menggerakkan pion hitam kedua untuk mengalahkan benteng putih yang baru saja ia jebak. “Terutama jika kau terus menerus membuang-buang mereka dalam gerakan tak berarti.”

Sang Kaisar Abadi Hashem menunjukkan ekspresi geram.

“Aku menggunakan bidak-bidak superior untuk melancarkan strategi yang superior pula!” Cemoohnya. “Sungguh, Shay’tan. Kau terlalu berpikir dalam jangka pendek untuk bisa mengerti seluk beluk permainanku!”

Shay’tan tertawa.

“Menang adalah masalah jumlah!” Ia menjatuhkan sang benteng putih yang malang itu ke tumpukan bidak-bidak yang telah terkalahkan yang kian bertambah dan berserakan di sekeliling takhtanya seperti mainan. “Siapa memiliki paling banyak bidak-bidak catur, dialah yang menang.”

Alis mata putih lebat Hashem berkerut penuh konsentrasi. Mulai dari jubah linennya yang sengaja dibuat terlihat sederhana, hingga ke rambut putihnya yang sengaja tidak rapi, sang dewa berjanggut ini telah bersusah payah untuk menciptakan gambaran diri yang sama sekali berbeda dengan Shay’tan. Ia mengamati sebuah benteng hitam yang sendirian mengitari sebuah planet di kedalaman wilayah yang belum terjelajah.

“Siasat apa yang sedang kau rancangkan, kau setan tua?”

Shay’tan menampilkan senyuman terpolosnya, ekor merah panjangnya mengejang seperti seekor kucing yang sedang membuntuti seekor tikus. Hashem mengambil sebuah ksatria putih dan mempertimbangkan langkah berikutnya. Senyuman Shay’tan sirna ketika ia menyadari bidak catur mana yang akan digerakkan oleh lawannya. Penyeimbang ala Hashem! Ini yang selalu merusak semua rencananya.

Kedua sayapnya terentang keluar ketika Hashem menggerakkan ksatria putihnya ke wilayah yang belum terjelajah itu, ke arah si benteng hitam yang sedang mengorbit di sekeliling hadiah terbaiknya seorang diri.

“Ksatria putih ke Zulu Sektor Tiga...”

“Oh jangan kau berani coba-coba!”

Shay’tan mencengkeram benteng hitamnya dan menggerakkannya untuk mengalahkan ksatria putih. Ia membanting benteng itu ke peta galaksi, menjatuhkan si ksatria putih dari langit.

Ruangan bergetar.

Langit berubah putih terang.

Shay’tan!’ sebuah suara feminin berteriak. ‘Kau seharusnya menunggu giliranmu!’

Sebuah sosok keemasan samar-samar terlihat di awan-awan, menjulang di atas mereka seolah mereka berdua pun tak lebih dari bidak-bidak catur pada papan yang jauh lebih besar. Dengan satu putaran pergelangan tangannya, Ia-Yang-Adalah melucuti indera pengetahuan mereka akan masa yang akan datang dan membuang kedua dewa tua itu kembali ke galaksi untuk melihat bagaimana manipulasi mereka dilaksanakan di kekaisaran galaksi yang dikuasai oleh keduanya.



Bab 1

Ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia,

Dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka;

Inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala,

orang-orang yang kenamaan.

.

Kejadian 6:5-6

.

Kejadian 6: 1-4

Februari – 3,390 S.M.

.

Sakit.

Besi menembus dagingnya dengan gumpalan percikan yang berputar, membara, dan mendecit. Ia menggerobok kesakitan ketika sebuah batang besi menusuk dadanya, menancapkan dirinya ke dek kapalnya seperti seekor kupu-kupu. Darah memenuhi paru-parunya, begitu membakar dan mencekik. Aroma manis tembaganya memenuhi udara; aroma dari ajalnya sendiri yang akan segera tiba.

Ia berusaha mengingat namanya; namun tak ada ingatan, hanya sensasi terjatuh ketika ia dilemparkan dari surga.

Jadi beginikah? Akhir segalanya...’

Setetes air mata keluar dari matanya ketika kapal itu menabrak lapisan atmosfer dan mulai terbakar; rasa perih dari garam menyengat saat air matanya mengenai luka di wajahnya. Aneh, sengatan itu masih terasa begitu tajam di tengah-tengah panas membara dan rasa sakit dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Sendirian. Sejak dulu ia selalu tahu bahwa ia akan mati sendirian.

Kapal itu meneriakkan peringatan.

Ia menutup mata dan berdoa, memohon untuk pergi dengan tenang ke dalam kekosongan, untuk merasakan hidupnya menyelinap keluar dari tubuhnya agar kesakitannya bisa berakhir. Namun bahkan saat ia telah begitu dekat dengan kematian, bagian dari dirinya yang masih mengingat jati dirinya berbisik:

Berjuang!

Bertahanlah hidup!

Hidup sehari lagi.

Ingat mengapa kau berjuang?

Kau harus menyelesaikan misi itu...

Ia mengepalkan tinju, menggenggam patung kecil gelap yang selalu ia simpan di dekat hatinya. Ia akan menghajar mereka yang telah melakukan hal ini; meskipun ia tidak memiliki ingatan tentang siapa yang ia lawan atau apa yang ia perjuangkan.

Sekian lama setelah ia seharusnya sudah berlalu dari dunia ini, ia terus berjuang untuk setiap nafasnya.


Bab 2

Februari – 3,390 SM

Bumi: 12 jam sebelumnya

NINSIANNA

Padang gurun yang terbentang di antara dua sungai besar adalah tempat yang tak bersahabat, bahkan selama musim hujan sekalipun, ketika embun yang diturunkan oleh badai pasir yang sering terjadi itu hampir tidak pernah menyentuh tanah. Hanya ada sedikit tempat bernaung di sini. Hanya puing-puing dan gumpalan semak-semak kering, sisa-sisa kerangka dari aliran sungai yang telah lama mati, dan gunung di kejauhan yang oleh para musuh mereka diklaim sebagai tempat suci dewa mereka.

Ninsianna, yang namanya berarti Ia-yang-melayani-sang-dewi, meringkuk di belakang gundukan bebatuan, jantungnya berdebar-debar saat tiga prajurit yang mengenakan rok berlipat melangkah begitu dekat dengan tempat di mana ia bersembunyi, memunguti semak belukar kering untuk membuat api.

“Untuk apa ia pergi ke arah sini?” Tanya Tirdard.

Ia ingin melarikan diri darinya.” Kata Dadbeh.

Jangan biarkan ia mendengarmu mengatakan hal itu,” kata Firouz. “Ia berangan-angan menjalin cinta dengannya.”

“Kuharap begitu!” Kata Tirdard. “Mereka seharusnya menikah di saat titik balik matahari musim panas.”

“Kecuali jika ia tidak berhasil menemukannya,” kata Firouz.

Jika kau menanyakan pendapatku,” Dadbeh mendengus, “kurasa wanita itu telah kabur bersama pria lain.”

Ninsianna mendekap mulutnya dengan tangannya sendiri untuk menahan dorongan dalam dirinya untuk berseru: “Tidak bisakah kalian mengerti bahwa aku hanya tak ingin menikah dengannya?’ Ia telah menyerukan protes itu, secara lantang, berkali-kali, namun tak ada seorang pun yang peduli tentang keinginan seorang wanita.

Coba bayangkan anak-anak laki-laki sehebat apa yang akan kau lahirkan?’ Papa mencemooh kebimbangannya. ‘Ia-Yang-Adalah sangat berkenan akan perkawinan ini. Ia adalah putra dari sang kepala suku. Bayangkan kehormatan seperti apa yang akan didapat dari persatuan dua keluarga kita?’

Tapi ia tak ingin menjadi kambing pembiak bagi siapa pun! Tidak demi desa ini. Bahkan tidak bagi Ia-Yang-Adalah!

Pembicaraan mereka terhenti saat Jamin berjalan kembali ke perkemahan sembari membawa rusa yang telah mati yang tergantung di pundaknya yang kekar. Ia adalah pria yang tampan, kekar, dengan wajah berwarna gelap, hidung lurus yang indah, dan mata terhitam yang pernah ada. Setiap wanita di desa ini tergila-gila akan kegagahan seksualnya.

Setiap wanita kecuali dirinya...

Ia adalah satu-satunya mangsa yang tak bisa dipikat Jamin ke tempat tidurnya!

Sahabat Jamin, Siamek, seorang pria tinggi dan kompeten, meletakkan tombak-tombak obsidian mereka dan jubah Jamin ke tanah.

“Apakah kalian melihat tanda-tanda keberadaannya?” Tanya Firouz.

Hanya jejak kaki.” Jamin menunjuk ke arah timur laut. “Beberapa ribu hasta ke arah sana.”

“Mengapa ia pergi ke arah musuh-musuh kita?” Tanya Firouz. “Tidakkah ia sadar bahwa orang-orang Halifi itu akan langsung menyergapnya?”

Karena ia adalah seorang wanita,” Jamin tertawa. “Hanya para dewa yang tahu hal apa yang berkibaran di balik wajahnya yang jelita.”

Ninsianna memungut sebuah batu, menahan keinginan untuk melemparkan batu itu ke kepala si putra Kepala Suku yang arogan itu. Jika saja bukan karena ‘indera batinnya’, ia pasti sudah mati sekarang!

“Itulah yang terjadi jika kau mengejar putri sang dukun,” kata Firouz.

“Kami semua sudah memperingatkanmu,” kata Siamek, “Ninsianna itu plin-plan.”

Dadbeh tertawa.

“Oh, Jamin! Aku menginginkanmu!” Pria kecil itu berbicara dengan suara bernada tinggi yang dibuat-buat. Ia memalingkan kepalanya, berpura-pura menjadi sisi dirinya yang lain. “Tidak, aku tidak menginginkanmu!” Ia kembali berbalik. “Ya, aku mau!” Ia berbalik lagi. “Tidak, aku tidak mau!”

Tirdard membungkam mulutnya dengan tangan, berusaha untuk tidak tertawa.

“Sementara itu-“ Firouz menimbrung, menyorongkan pinggulnya untuk menirukan cara wanita berjalan “- ia memainkan sihir ayahnya.”

“Shazam!” Dadbeh menggerakkan jari-jarinya. “Jamin jatuh dalam pengaruh mantranya.”

“Jatuh?” Jamin mendengus. “Kurasa tidak. Ayahkulah yang merestui perjodohan ini.” Ia memandangi bebatuan di mana Ninsianna bersembunyi. “Dasar wanita! Terlalu bodoh untuk bisa mengerti pikirannya sendiri.”

Ia berlutut di samping rusa itu, mengambil kantong airnya, dan memercikkan beberapa tetes air ke atas kepala rusa itu.

“Terima kasih, saudara,” Jamin berbisik, “atas hadiah kehidupan ini.”

Angin mendengar ucapannya dan menjawab dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Ninsianna.

Sama-sama, hai putra yang dikaruniai...’

Ia menyayat perut binatang itu dengan pisau obsidiannya, dengan ahli memisahkan organ-organ dalam dari isi perut yang akan mereka tinggalkan untuk dimakan oleh anjing-anjing hutan.

Siamek berjongkok di sebelah Jamin dan menunjuk ke arah bekas luka bundar di perut Jamin.

“Kau terlihat seperti rusa itu ketika aku menggendongmu kembali dengan usus menyembul keluar dari perburuan banteng liar itu –“ ia mengecilkan suaranya agar prajurit-prajurit lainnya tidak bisa mendengar perkataannya, “- jika saja Ninsianna tidak menjahit lukamu dulu, kau pasti sudah mati. Mungkin kau salah mengartikan pertolongan yang ia berikan itu sebagai cinta?”

Di balik batu, Ninsianna menahan nafasnya.

Kumohon? Buatlah ia mendengarkan sahabatnya?

Jamin menancapkan pisaunya ke bangkai rusa itu.

“Karena itulah kita harus membawanya kembali!” Katanya. “Assur membutuhkan sang penyembuh.”

Ia mencabut satu kaki dan memberikan daging itu pada Siamek. Mata hitamnya menatap tajam orang kepercayaannya.

Siamek mengangguk. Ia tidak pernah membantah Jamin di hadapan prajurit lainnya, namun mereka telah berteman cukup lama sehingga ia berani mengutarakan pendapatnya ketika sedang berdua saja. Siamek beranjak dan meletakkan dagingnya di atas api.

Jamin berdiri menghadap gunung di kejauhan, ekspresinya terlihat rentan saat matahari bergerak mendekati kaki langit.

“Di manakah kau berada?” Ia berbisik.

Ia menjejakkan kakinya yang berbalutkan kulit di batu di mana Ninsianna bersembunyi dan berdiri di sana, mengamati kaki langit, dan memasangkan jubahnya dengan menggunakan lencana dari tulang yang diukir dengan begitu rumit.

Ninsianna meringkuk seperti hewan mangsa, bersembunyi di antara bebatuan. Angin berbalik arah. Asap berembus ke arahnya, membawa aroma lezat dari daging yang sedang dibakar, dibumbui dengan bawang putih liar serta sedikit rerumputan herbal ajwain gurun. Perutnya menggerutu, mengingatkan dirinya bahwa selama tiga hari terakhir ia hanya memakan bastirma, daging yang dikeringkan dan diasinkan.

Di manakah ia akan tinggal? Seorang wanita tanpa sebuah desa?

Angin berbisik:

Sebegitu buruknyakah? Untuk menjadi istri dari seorang calon kepala desa?’

Ia mencengkeram keliman jubahnya, dirinya tercabik-cabik oleh kebimbangan. Ia memang selalu menolak pria itu, rayuan dan hadiah-hadiah darinya; bagaimana pria itu selalu mengejarnya seperti seekor singa yang mengintai mangsanya. Namun setelah ia terluka, sebuah sisi yang baru dan rentan dari Jamin mulai timbul. Hari demi hari, ketika Ninsianna datang untuk mengganti perban-perbannya, Jamin akan menceritakan kisah-kisah tentang berbagai tempat yang pernah ia jelajahi, orang-orang yang pernah ia temui, dan hal-hal liar dan indah yang telah ia lihat.

Jamin menjanjikan, bahwa jika Ninsianna menjadi istrinya, ia akan membawanya bertualang bersamanya.

Ninsianna akhirnya mengatakan “ya” padanya.

Namun kemudian Jamin sembuh dari lukanya dan kembali menjadi... dirinya!

Yang perlu Ninsianna lakukan hanyalah berdiri dan berkata, ‘ini aku.’ Jamin marah besar, ketika ia memutuskan pertunangan mereka. Mungkin, jika ia menjelaskan bahwa ia ketakutan sehingga melarikan diri? Mungkin Jamin telah belajar dari kesalahannya?

“Hei, Jamin?” Firouz memanggil. “Apa yang akan kau lakukan padanya begitu kita menemukannya?”

Jamin membersut.

“Akan kutelungkupkan dia di atas lututku dan kuhajar,” katanya, “seperti yang seharusnya dilakukan oleh ayahnya sejak dulu.”

Para prajurit itu tertawa.

Keraguan Ninsianna membeku di dadanya. Dasar pria! Mereka mengatakan suatu hal untuk merayu wanita, dan mengatakan hal yang jauh berbeda untuk membuat teman-temannya kagum. Ia sudah pernah terayu olehnya sekali. Ia tidak akan membiarkan keputusan bijaknya dikompromi untuk kedua kalinya!

Ia menunggu hingga mereka semua duduk untuk makan, lalu dengan sangat berhati-hati, ia mulai merangkak mundur. Sebuah kerikil kecil bergeser dan mengenai kerikil lainnya.

Tak!

Ninsianna membeku.

Kelima prajurit itu melihat ke arahnya. Jantungnya berdegup keras. Ia menekankan tubuhnya ke tanah.

Kumohon jangan lihat diriku!

Jika mereka bangkit berdiri, ia pasti akan langsung ketahuan.

Ia membisikkan doa yang biasa digunakan ayahnya setiap kali mereka perlu menyalakan api dan kayunya lembap, sembari membayangkan api di titik balik matahari yang mereka nyalakan dua kali setahun. Api di perkemahan itu tiba-tiba menyala dengan lidah api yang membara, sehingga dagingnya mendesis. Para pria itu segera berlomba menyelamatkannya sebelum daging itu berubah menjadi arang.

Terima kasih, ibu!

Ia menunggu hingga mereka kembali duduk dan makan, lalu kembali merangkak mundur hingga sampai ke wadi, sebuah aliran sungai gurun yang kering yang hanya dialiri air setelah turun hujan yang amat deras. Di bawahnya terdapat sebuah lubang yang gelap dan lembap, yang baru saja digali oleh Dadbeh dan Firouz untuk mendapatkan air. Di gurun ini, air menguap dengan begitu cepat. Bukan saja lubang itu telah mengering, tapi tanahnya mengeluarkan hawa berbau busuk yang memuakkan.

Indera penglihatan yang ia warisi dari ayahnya menunjukkan keberadaan roh-roh jahat. Siapa pun yang meminum air ini akan terkena sakit perut dan diare parah.

Ninsianna terkikih. Mungkin itu akan bisa menghalangi Jamin dan bawahannya?

Ia bergegas ke barat, menjauh dari wilayah Ubaid, menjauh dari Assur, menjauh dari kedua orang tuanya yang selalu menekankan tentang tugas dan kewajiban. Di tengah gurun ini, seorang musafir mungkin bisa lewat tanpa ketahuan, namun segerombolan prajurit pastinya akan menarik perhatian para musuh mereka.

Bahkan Jamin pun tak akan berani mengambil risiko berperang dengan suku Halifi yang bengis itu!

Matahari terbenam di balik gunung yang oleh penduduk Ubaid disebut ‘Taring Dubuk’. Suku Halifi menganggap gunung itu sakral. Jika Jamin terpergok di sana, mereka pasti akan langsung memeranginya.

Bayang-bayang kian memanjang, sehingga langkahnya tersandung-sandung. Namun ia perlu menambah jarak antara dirinya dan mantan tunangannya.

Indera pengetahuan yang ia warisi dari ayahnya yang adalah dukun menerangi jalannya. Setiap makhluk hidup memancarkan cahaya roh yang redup, mulai dari sehelai rumput terkecil sekalipun hingga kalajengking yang bergerak dengan cepat di antara bebatuan. Ayahnya berkata bahwa wanita tidak seharusnya memiliki indera penglihatan, namun ia bisa merasakan jauh lebih dari apa yang ayahnya percayai.

Ia tersandung oleh sebuah batu.

“Aduh!”

Dengan sebuah rintihan, dirinya tertelungkup di tanah.

Batu-batu sialan!

Ia tidak bisa melihat mereka. Hanya benda-benda hidup saja.

Sembari mengalami hiperventilasi, ia bangkit berdiri dan mengebaskan debu kuning tua dari baju selendangnya. Ia perlu menemukan tempat bernaung. Jauh di tengah gurun seperti ini, hampir tak ada cahaya roh sama sekali.

Oh! Betapa ia benci kegelapan!

Dan mengapa Ia-Yang-Adalah kini membisu?

Ia meremas kantong airnya yang terbuat dari kulit kambing dan menyesap sedikit air. Kantong itu kini telah lembek karena semakin kosong. Jika ia tidak segera menemukan air, maka tak ada pilihan baginya selain kembali ke sungai.

Ia menutup mata dan menengadahkan telapak tangannya ke langit.

Ibu yang Besar? Aku haus...

Tanda-tanda samar akan sebuah cahaya roh bersinar semakin terang. Tepat di sebelah kirinya, tanahnya bersinar oleh secercah tanda kehidupan. Air di bawah tanah? Jika saja ia tidak terjatuh, mungkin ia tidak akan melihatnya.

Ia mengikuti wadi sempit yang lurus mengarah ke gunung keramat itu. Sembari berjalan, ia berkata pada sang dewi.

“Aku tahu kau berkenan pada Jamin,” katanya, “tapi tabiatnya sangat buruk! Aku menginginkan seorang pria yang mencintaiku seperti Papa mencintai Mamaku. Bukan seseorang yang ingin menikahiku hanya demi martabat.”

Suaranya menajam penuh sarkasme.

Tapi ia adalah putri dari sang dukun...”

Ninsianna mendengus.

“Yang ia inginkan hanyalah seorang budak yang akan memasak makanan untuknya dan melahirkan putra-putranya!”

Aroma tanah yang samar-samar terbawa oleh angin. Ninsianna berhenti dan mengendus.

Air?

Ia bergegas ke arah sebuah batu yang begitu besar sehingga wadi itu terpaksa mengitarinya. Dari sebuah celah di batu itu, sebuah mata air kecil memancarkan air yang memberi kehidupan.

“Terima kasih, Ibu,” ia berseru, “karena telah memberikan air murni ini padaku!”

Ia meraup air dengan kedua tangannya dan mempersembahkan minuman pertamanya pada bumi sebelum ia mencelupkan tangannya ke dalam genangan kecil yang terkumpul di dasar batu itu. Air itu terasa dingin dan manis, tanpa bau busuk yang menunjukkan roh-roh jahat. Ia minum hingga puas, lalu mengisi kantong air kulit kambingnya.

Ia mengeluarkan selimut wol dari dalam tas kulitnya. Di tengah gurun ini, seseorang bisa mati dari sakit karena panas di siang hari, lalu mati beku di malam hari, namun menyalakan api adalah cara terpasti untuk menarik perhatian yang tak diinginkan. Ia bersandar pada sebuah batu, merenungkan keadaannya yang sulit.

Ditunangkan! Kepada seorang pria yang tidak ia cintai!

Malam semakin dingin. Ninsianna mulai menggigil. Sekumpulan dubuk bergerak mendekat dengan raungan tawa mereka yang membuat gelisah. Ia mengambil pisau obsidiannya dan mencengkeramnya di dekat dadanya. Seekor ular merayap keluar dari lubang persembunyiannya. Di tengah gurun di kejauhan, terdengar seekor hewan melepaskan teriakan kematiannya.

“Ibu?” Suaranya gemetaran. “Tak bisakah kau membuat Jamin jatuh cinta pada wanita lain?”

Tidak. Tentu saja tidak. Jamin selalu mendapat perkenanan. Jadi apa pula yang bisa membuat sang dewi berbalik melawan putra kesayangannya?

Ia menengadah dan memandangi bintang-bintang di langit.

Shazam! Ninsianna melakukan sihir ayahnya...

Itu tidak benar. Tak sepenuhnya benar. Yah, mungkin hanya sedikit... Ia terpaksa merawat Jamin waktu itu, dan pria itu sungguh membosankan.

Bagaimana jika?

“Mungkin aku bisa melakukan ritual cinta untuknya?”

Ia mengobrak-abrik tasnya untuk mencari relik keramat yang ia curi dari ayahnya. Sekantong tulang belulang untuk meramal masa depan. Parrotia yang dikeringkan untuk melambangkan roh. Sebuah batu lapis untuk melambangkan Bumi. Tangannya bergetar saat ia menyentuh benda terakhir; sebuah labu kecil dari tanah liat yang memuat larutan buah beri belladonna dan biji-biji opium. Ayahnya bilang, jika seorang wanita meminum ramuan itu, ia akan terhilang di dalam Dunia Mimpi.

Ninsianna menertawakan ironi itu.

Mengapa pria boleh mendikte takdir dari para wanita sementara seorang dewilah yang menciptakan semua yang ada?”

Ia membuka sumbat labu itu dan dengan waspada menghirup aroma minuman keramat itu. Toh situasinya sudah tidak bisa menjadi lebih buruk dari sekarang...

Sembari menutup hidung, ia meneguk habis seluruh isi botol itu.

Ia pun langsung hampir muntah.

Ih! Rasanya seperti tanah yang dicampur dengan air kencing kambing!

Ia mendekap mulutnya dengan tangan untuk memaksakan diri menelan larutan menjijikkan itu.

Dunia berputar saat suara seperti air yang menderu terdengar semakin keras di dalam telinganya. Ia merangkak ke mata air keramat tadi dan menelan setangkup air, mencoba menghilangkan rasa ramuan itu dari mulutnya. Ia meringkuk seperti bola, mencengkeram perutnya. Mengapa, oh mengapa, ia memutuskan untuk meminum ramuan keramat itu?

Akhirnya suara deruan itu hilang. Tidak. Bukan hilang. Suara-suara itu adalah berbagai pikiran, yang mengalir mengitari dirinya seperti informasi yang mengalir secara perlahan. Ia menadahkan telapak tangannya ke langit dan mulai menyanyikan sebuah doa:

.

Oh Ibu yang Besar!

Kau memiliki kuasa untuk mengubahkan takdir.

Di tanganmu yang penuh kebajikan,

Suatu perkara buruk pun menjadi kebaikan.

Di sebelah kananmu Keadilan,

Di sebelah kirimu Kebajikan.

Kepadamu, aku datang untuk memohon.

.

Saat ia menyanyikan doa, cahaya roh yang mengalir di setiap makhluk hidup mulai bersinar lebih terang. Para tikus gurun. Kalajengking. Bahkan kumbang tinja sekalipun. Ia mengambil pisau obsidiannya dan menggoreskan kaca vulkanik hitam itu ke telapak tangannya.

Tiga tetes darah ia peras ke sebuah labu kecil dari tanah liat; ia mengangkat labu itu dan mengarahkannya ke langit.

Oh Ibu Besar!” Ia berseru. “Temukanlah bagi Jamin seorang jodoh yang memiliki ketahanan hati yang sanggup melawan kesombongannya? Dan berikan padaku seseorang yang cukup kuat untuk membuatnya mundur!”

Di padang pasir di kejauhan, segerombolan serigala melolong, tapi kali ini mereka tidak terdengar seperti mengancam. Entah bagaimana rasanya seakan-akan ia telah menjadi satu dengan kawanan mereka.

Sebuah sensasi mati rasa yang melumpuhkan merayapi tangan dan kakinya. Suara kerikan serangga membentuk perkusi seram dari gemeretuk perdukunan. Rumput dan semak bersinar begitu terang, dengan terbungkus cahaya hijau pendar. Benang-benang halus dari cahaya roh terbentang di antara segala sesuatu yang ia lihat, menunjukkan bahwa segala sesuatu itu terhubung satu sama lain. Bahkan bebatuan pun bersinar dengan cahaya redup dan terlihat begitu hidup.

Jauh di langit, bintang-bintang pun berputar dalam tarian lambat nan anggun.

Air mata mengalir membasahi pipinya saat mereka menyanyikan nyanyian tanpa kata-kata.

Selamat datang wahai saudara! Ayo bergabung bersama kami...

Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh mereka.

“Begitu indah,” ia berbisik. “Ibu Besar? Di manakah aku bisa bergabung dengan mereka?”

Pikiran-pikiran dari Ia-Yang-Adalah melayang di sekelilingnya seolah ia sedang mengambang di sebuah anak sungai. Waktu dan ruang menjadi tak berarti saat gambar-gambar mengalir ke arahnya di sungai itu; seorang pria berjubah putih yang duduk di takhta. Di belakangnya tumbuh sebuah pohon besar dari taman yang hijau dan subur, dikelilingi oleh sebuah kota dengan tiga matahari emas. Di dalam dan di luar kota itu, makhluk-makhluk aneh melintas di antara bintang-bintang dengan sampan-sampan langit tertutup yang begitu asing.

Nyanyiannya mendadak berubah.

Sebuah kegelapan yang menakutkan merayap ke tengah.

Bintang-bintang berteriak.

Ke mana pun kegelapan itu meraih, bintang-bintangnya menjadi sakit dan mati.

Ibu! Tolong kami!

Angin berembus kencang.

Ninsianna...’ Ia-Yang-Adalah berbisik. ‘Anakku, aku butuh bantuanmu...’

Sang dewi mengarahkan mata Ninsianna kepada salah satu sampan langit. Seorang pria yang berbeda dari pria mana pun sedang memerangi malapetaka itu. Tiba-tiba, kilatan petir menghantam sampan langit pria itu. Sampannya berguling-guling di langit, ke arah sebuah batu permata biru bulat yang Ninsianna tahu adalah bumi di mana ia tinggal.

Apakah kau bersedia menolongnya? Pria ini bisa membawamu ke surga.’

Sebuah sensasi kegembiraan meluap di tubuh Ninsianna.

Ia akan melihat surga?

“Ya, Ibu Besar,” ia bersumpah. “Aku akan menolongnya.”

Angin bertiup lebih kencang, bukan saja di dalam penglihatannya, tapi juga di dunia di sekelilingnya, meniup rambutnya dan mengembuskan nafas dingin ke kulitnya. Di langit timur, sebuah bintang jatuh muncul. Benda itu menyinari kaki langit saat meluncur dari langit. Begitu besar hingga mendominasi ufuk timur.

“Ibu?” Ninsianna berseru.

Bintang itu melaju ke arahnya, sebuah benda membara yang mengerikan.

Benda itu semakin besar dan semakin besar.

Sebuah teriakan melengking memecah udara.

“Ah!”

Ninsianna mengempaskan diri ke tanah.

Tanah bergetar saat bola api itu melesat tepat di atas kepalanya.

Benda itu pun menghantam bumi.

WHAM!!!

Ninsianna menjerit.

Ia menutupi kepalanya saat langit menghujaninya dengan kerikil dan debu. Jantungnya berdetak begitu cepat, seolah akan melompat keluar dari dalam dadanya.

Akhirnya, hujan kerikil pun berhenti.

Gumpalan awan debu yang besar menyelimuti dirinya dengan tanah.

Ninsianna bangkit berdiri dan menghadap ke arah cahaya merah menyala, sembari tak yakin apakah ia sedang berada di surga, ataukah ia telah dilemparkan ke dalam semacam neraka yang berapi-api.

Sekarang pergilah,’ Ia-Yang-Adalah berbisik, ‘dan lakukan sesuai kesepakatan kita.’

Ninsianna meraih tasnya dan berjalan ke arah benda bersinar yang misterius itu. Akhirnya ia sampai di tempat di mana tanah longsor merintangi wadi. Tepat di belakangnya, sebuah lembah hijau kecil bersarang di kaki gunung keramat itu, aliran sungainya menggenang dan membentuk sebuah oasis. Di seberang perairan itu, dua jejak api terentang ke arah benda bersinar yang menancap di kaki gunung itu.

Cahaya fajar pertama merekah di ufuk timur.

Di sini,’ Ia-Yang-Adalah berbisik. ‘Di sini kau akan mengajar jagoanku ini untuk menjadi seorang manusia.’


Bab 3

Februari 3,390 SM

.

Percikan api bergemeresik di tengah asap, memberikan kesan seperti neraka yang tak wajar. Tongkat tertancap menembus dadanya, mengancam untuk menenggelamkan dirinya dengan darahnya sendiri. Sembari megap-megap bak seekor ikan, ia terengah-engah menarik nafas kecil yang begitu menyiksa, berusaha untuk menyalurkan cukup oksigen ke otaknya untuk menghilangkan kabut yang menutupi penglihatannya. Ia tak bisa mengingat namanya, namun jika ia tidak membebaskan diri dari reruntuhan ini, ia pasti akan mati.

Sinar matahari menembus retakan di atap. Dari arah cahaya itu, sesosok roh berambut gelap yang cantik melangkah masuk. Cahaya terpantul dari kulitnya saat ia berlutut di sampingnya, dengan rupa bak makhluk legenda.

Seseorang dari ras mula-mula?

Sebuah perasaan kagum yang seolah terpisah dari tubuhnya melayang dengan cepat ke dalam pikirannya dan segera menghilang sebelum ia sempat memikirkan apa arti dari ‘ras mula-mula’.

"O-kim-olduğunu yardım etmek için beni buraya gönderdi ise,” roh itu berkata. “Ben sana zarar demek.”

Kegelapan mengaburkan penglihatannya saat ia berjuang untuk melepaskan diri. Tangan yang menyentuh pipinya dan tatapan penuh belas kasihan dari mata keemasan roh itu sudah cukup untuk membuatnya mengerti. Tak mungkin ia bisa bertahan hidup dengan luka separah ini. Roh itu telah datang untuk memandunya ke Dunia Mimpi.

Sebuah perasaan lega yang luar biasa membanjiri tubuhnya.

Tidak sendirian.

Di tengah rasa sakitnya, ia tersenyum sembari menyerahkan takdirnya ke tangan sang roh.

Tidak sendirian.



Bab 4

Februari - 3,390 SM

Bumi: Lokasi Kapal Jatuh

NINSIANNA

Benda yang awalnya terlihat seperti batu besar membara itu kini berubah menjadi seperti kepala tombak semakin ia mendekati tempat di mana bintang jatuh itu bersarang di kaki gunung keramat. Bahkan dalam keadaan setengah terkubur pun, sampan langit itu sama dengan yang ia lihat di penglihatannya, sampan yang beterbangan di antara bintang-bintang yang bernyanyi. Benda itu bersinar merah terang seperti sekumpulan batu bara, tapi sampan itu sendiri tidak terbakar. Hanya ada asap yang mengepul keluar dari salah satu dari dua cerobongnya. Sementara ia tidak bisa menemukan pintu untuk masuk, sebuah retakan membelah kapal itu dari dasar ke atapnya tepat di titik di mana kapal itu tertimbun tanah longsor.

Cepat!’ Ia-Yang-Adalah berbisik.

Ninsianna menyempil masuk dari retakan itu ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi asap. Sarang laba-laba bergantungan dari atap. Satu-satunya sumber cahaya datang dari percikan api yang menyembur dari ratusan sarang laba-laba yang bergantungan di atap itu.

Matahari terbit menembus retakan di atap, menyinari tubuh seorang pria yang berlumuran darah yang terbaring di bawah tumpukan puing. Sebuah tombak tertancap di dadanya.

“Oh tidak!”

Puing-puing tajam merobek tangan dan lututnya saat ia berjuang untuk menghampiri sang pria yang hampir mati itu. Bau tembaga memenuhi lubang hidungnya, aroma kematian yang akan segera datang.

Pria itu mengulurkan tangan ke arahnya. Darah mengalir keluar dari mulutnya.

"An rás fhoinse?"

Ia meletakkan tangannya yang gemetaran di pipi pucat pria itu, sembari berharap agar ia tidak menyadari ketakutan di wajahnya. Mata mereka saling bertatapan di tengah cahaya redup, seorang makhluk yang ketakutan dan hampir mati, dan seseorang yang tak dikenal. Ekspresi pria itu berubah menunjukkan rasa syukur.

"Neo-aonar?"

Matanya berkelebat lalu menutup.

Ninsianna menekankan jari-jarinya ke leher pria itu. Kumohon, kumohon, kumohon jangan mati! Isak tangis mendera paru-parunya ketika ia merasakan denyut nadi lemah di ujung jarinya.

Ini –‘ sebuah bisikan intuisi memberitahunya. ‘- pertama-tama bereskan benda yang paling mematikan.’ Tombak tipis panjang yang menancapkannya ke lantai.

Ia mengenakan sebuah pakaian aneh yang diikatkan di dadanya, bukan jubah atau pun mantel. Ia menggunakan pisau obsidiannya untuk merobek kain itu dari tombak yang menyumbat darahnya. Begitu tombak itu dicabut, pria itu akan kehabisan darah dalam beberapa detakan jantung, jadi ia harus bekerja dengan sangat cepat.

Setelah mengobrak-abrik tasnya, ia mengeluarkan jarum dari tulang serta segumpal rambut yang dicabut dari ekor kuda liar. Ia pernah membantu Mama merawat begitu banyak luka yang mengerikan, termasuk luka Jamin, namun ia belum pernah merawat luka separah ini tanpa mendapat bantuan dari ibunya.

Ia mencuci kedua tangannya dengan air dari kantong air kulit kambing, lalu menjejakkan kedua kakinya di tubuh pria itu.

“Ini akan terasa sakit.”

Ia menyanyikan lagu yang selalu dinyanyikan Mama setiap kali ia membutuhkan kekuatan, biasanya ketika segerombolan prajurit datang dalam keadaan terluka akibat perkelahian.

.

Ia mengumpulkan kekuatan gaib,

Ia mengumumkan adat sakral.

Ia bekerja dengan keahlian yang rumit,

Saat ia merawat yang terluka.

.

Ia membayangkan kekuatan mengalir dari ujung kepalanya hingga ke jari-jarinya, lalu turun ke kakinya hingga berakar kuat di tanah. Wanita tidak diperbolehkan untuk menggunakan ilmu sihirnya untuk tujuan lain selain dari menyembuhkan, namun ia pernah mengintip Papa, berkali-kali, ketika para dukun berkumpul dan membicarakan cara-cara untuk menggunakan ilmu sihir mereka untuk membunuh musuh. Ia merasakannya, suatu getaran yang mengalir di sekelilingnya, seperti air yang tercurah ke dalam sebuah pasu hingga kekuatan itu berhenti mengalir. Ia mencengkeram batang tombak itu dengan kedua tangannya dan menyentakkannya.

“Hiyah!”

Pria itu mengerang, namun tombak itu tak bergeming.

Ninsianna menyentak lebih keras, sembari berdoa dan memusatkan perhatiannya, hingga energinya menjadi sangat kuat dan tubuhnya mulai berdengung. Kali ini, ketika ia menarik tombak itu, tubuh pria itu terangkat dari lantai.

Tombak itu mengeluarkan suara isapan yang mengerikan sembari perlahan bergerak keluar dari dada pria itu.

Ninsianna berlutut, sembari terus menyanyikan lagu sakralnya.

.

Ia mengambil perban dan membersihkannya;

Ia melumuri perban dengan minyak,

Ia menyeka darah dan nanah,

Dan meletakkan tangan yang hangat di atas luka yang mengerikan itu.

.

Aliran informasi yang ia lihat di penglihatannya kini mengalir di sekelilingnya, dengan lebih jelas, lebih kuat daripada mantra-mantra yang pernah ia coba secara diam-diam, jauh dari pengawasan ayahnya.

Nafas pria itu semakin berat. Di sebelah kiri jantungnya, dagingnya merosot ke dalam tulang rusuknya yang hancur di mana tombak tadi tertancap, menghancurkan beberapa rusuk. Ia memasukkan dua jari ke dalam lubang itu, melewati daging dan rusuk yang hancur hingga jarinya menemukan rongga kosong. Hatinya ciut. Tombak itu telah melubangi sebelah paru-parunya.

Ia menelusuri bagian dalam dada pria itu dengan jari-jarinya, mengira-ngira seberapa parah lukanya, berapa lapisan yang tertembus, berapa banyak daging dan otot. Sesuatu berdenyut di ujung jarinya. Ninsianna berhenti sejenak, diliputi perasaan khidmat ketika jantung pria itu berdegup di balik selaput paru-paru yang halus untuk mencium ujung jarinya.

“Oh Ibu Besar!” Katanya dengan penuh kekaguman, “-bahkan Mama pun belum pernah menyentuh jantung yang masih berdenyut.”

Seperti inikah rasanya menjadi seorang dewi?

Ia mengambil jarum dari tulang yang telah ia kaitkan dengan benang sebelumnya. Ini bukanlah pertama kalinya ia menjahit paru-paru yang tertusuk, tapi di dua kasus sebelumnya, pasiennya akhirnya meninggal. Ia menusukkan jarum dari tulang itu keluar masuk daging yang empuk; masuk dan keluar, masuk dan keluar, sembari mengikuti bisikan informasi yang memberitahukan padanya apa yang harus ia lakukan. Ia merapatkan dagingnya seperti sepatu yang terbuat dari kulit kambing, memotong benang, lalu lanjut menjahit lapisan luar yang terdiri dari otot dan kulit.

Sembari menjahit, ia terus menyanyikan lagu sakralnya.

.

Ia mengumpulkan kekuatan gaib,

Ia memegang hidup di tangannya.

Ia menyambungkan hidup itu pada jubah agung,

Sembari mengucapkan kata-kata yang baik.

.

Ia mengetes pisau bedahnya;

Sembari menajamkannya.

Ia menyempurnakan kekuatan gaib pada ilmu pengobatan,

Ia meletakkannya di tanganku.

.

Pria asing itu kembali membuka matanya.

Ia memperhatikan Ninsianna menjahit, ekspresinya begitu tenang bahkan ketika melihat jari-jari Ninsianna terkubur jauh di dalam dadanya.

An bhfuil tú spiorad, teacht a chur mé go harm an réimse an aisling?” kata pria itu.

“Jangan takut,” jawab Ninsianna. “Ia-Yang-Adalah mengutusku ke sini untuk menolongmu.”

Karena kedua tangannya berlumuran darah, Ninsianna mencium pipi pria itu, berharap pria itu mengerti bahwa ia sedang berusaha menenangkannya. Ia mengikatkan benang jahitnya.

"Ní raibh mé riamh eagla bás, ach go bás ina n-aonar," kata pria itu. "Bás orm, go bhfuil tú ag teacht a thabhairt dom ar an turas."

Sensasi panas dingin menggelenyar di sekujur tubuh Ninsianna, seolah ia seharusnya mengenali bahasa pria itu, walaupun ia yakin ia belum pernah mendengar bahasa itu. Tapi setiap kata yang ia ucapkan disertai bunyi nafas yang mengerikan.

“Kurasa tombak itu telah menembus sampai ke belakang.” Ia menunjuk ke punggungnya sendiri. “Aku harus membalikkan tubuhmu. Ya?”

Ninsianna mengisyaratkan gerakan membalikkan badan dengan tangannya agar pria itu bisa mengerti.

Pria itu mengangguk.

"Is ea."

Ia mencoba mendorongnya dari samping, namun sebuah lemari yang berat telah jatuh menimpa kakinya. Ninsianna berdiri dan berusaha menyingkirkan puing-puing itu, namun kakinya terus menerus tergelincir di lantai yang dipenuhi darah. Ia kemudian mengganjal sebuah keping reruntuhan ke bawah lemari itu. Jika pria itu bisa menarik kedua kakinya sendiri, maka Ninsianna bisa membalikkan badannya untuk memeriksa keadaan punggungnya?

Ia merangkak kembali ke sisi pria itu. Tangannya menyentuh setumpuk bulu-bulu sayap bersimbah darah.

“Apa ini?” Ia menarik bulu-bulu tersebut. “Semacam jubah?”

Ia mengambil segenggam bulu-bulu itu dan menyingkirkannya.

‘Jubah’ itu mengepak ke arah atas, meniup debu reruntuhan di sekitarnya.

“Ah!”

Ninsianna bergerak mundur.

Sebuah wujud gelap melayang naik di dalam sampan langit yang gelap itu. Bentuknya seperti baji, dengan ratusan bulu yang ujungnya seperti tombak, mencuat dari ujung saat sayap itu mengepak, lalu kembali turun sembari bergetar dan jatuh ke lantai. Butuh beberapa saat untuk kenyataan yang baru ia saksikan itu mengalahkan rasa tak percaya Ninsianna.

Ia menatap, dengan mata membelalak seperti burung hantu, ke arah bulu-bulu sayap cokelat tua besar yang kini tergeletak di kakinya.

“Kau memiliki sayap?”

Ia menyentuh bulu-bulu yang bersimbah darah itu dan menelusurinya sampai ke pangkalnya di bawah punggungnya. Ia memandang ke langit-langit.

“Kau mengutusku untuk menyelamatkan seorang dewa?”

Alis mata pria itu berkerut dengan ekspresi kebingungan, seolah iya ingin tahu mengapa Ninsianna ingin menyakitinya. Ninsianna melirik segenggam bulu-bulu berwarna gelap yang baru saja ia cabut dari daging pria itu.

“Ehm... Maaf?” Ia tersenyum malu-malu pada pria itu. “Kami tidak, ehm...”

Ia menyentuh pipinya untuk mengkomunikasikan bahwa ia tidak bermaksud menyakitinya. Kulitnya terasa dingin, pucat seperti mayat. Cahaya rohnya melayang di antara dunia orang hidup dan mati. Cahaya roh itu

kian meredup.

Bekerjalah lebih cepat!’ Perintah Ia-Yang-Adalah.

Ninsianna menyentuh posisi di mana kedua kakinya menghilang di bawah reruntuhan berat.

“Kau terlalu berat untuk kugulingkan sendirian,“ ia menggerakkan tangannya untuk mengkomunikasikan apa yang harus ia lakukan, “aku akan menarik,“ ia mengisyaratkan gerakan menarik dengan kedua tangan, “tapi kau juga harus menarik kakimu sendiri. Ya?”

Orang asing itu mengangguk.

Is ea."

Ia berlutut di belakang kepala pria itu dan membelitkan lengannya ke ketiaknya.

“Tarik!”

Ninsianna menarik dengan segenap kekuatannya. Pria itu menggerakkan kakinya, cukup untuk melepaskan diri dari reruntuhan, lalu kembali kehilangan kesadaran. Ninsianna menggulingkan tubuh pria itu ke sisi.

Dari punggungnya, terjulur sepasang sayap cokelat kekar besar yang terjebak di bawah puing-puing. Sayap yang tadi mengepak ke atas sepertinya masih dalam keadaan baik, tapi sayap sebelahnya bengkok ke belakang dengan sudut yang terlihat menyakitkan.

“Ketika kau memberiku penglihatan akan seorang pria bersayap,” Ninsianna berkata pada sang dewi, “aku sama sekali tak mengartikannya secara harfiah!”

Ia menjahit luka di mana tombak itu telah menembus keluar dari punggungnya, kemudian lanjut merawat luka paling kritis berikutnya, sayapnya yang patah.

Sekali waktu, ketika ia masih kecil, ia pernah membantu Mama menyelamatkan seekor rajawali. Hewan liar adalah sesuatu yang keramat bagi suku Ubaid, suatu pertanda keberuntungan. Legenda menyatakan bahwa burung-burung besar adalah mata dari Ia-Yang-Adalah. Ninsianna menelusuri tulang-tulang yang tersembunyi di bawah bulu-bulu sayap. Tepat di bawah persendian, sebuah tulang tipis telah patah dan menembus kulitnya.

“Untung kau sedang tak sadarkan diri,” katanya, “kalau tidak, kurasa kau tak akan mengizinkanku melakukan hal ini.”

Ia memasukkan tulang tipis itu kembali ke bawah kulitnya dan meringis saat ia meluruskan tulang itu kembali ke posisi semula. Ia meraih tombak yang ia cabut dari dada pria itu. Tali. Ia butuh tali. Di manakah, di kuil ini, seorang pria mungkin menyimpan tali?

Belasan jaring laba-laba warna-warni bergantungan dari langit-langit seperti akar di dalam sebuah gua, tentunya terlepas ketika sampan langit ini jatuh ke gunung keramat. Ia mencabut beberapa helai jaring laba-laba berwarna-warni yang panjang. Walaupun lebih tipis daripada tali, benang-benang aneh itu, merah dan kuning dan hitam dan putih, bisa dibengkokkan dan bisa mempertahankan bentuknya. Ia melilitkan tombak itu pada sayap yang patah seperti pegangan tangan yang terbuat dari kulit kambing.

Sekarang bagaimana? Ibu! Pria ini berdarah-darah dan sayapnya patah!

Pergelangan tangan kiri pria itu bengkok dengan sudut yang tidak wajar. Setidaknya cedera seperti ini lebih lazim untuk ditangani. Ninsianna menekankan kedua kakinya ke sisi tubuh pria itu sebagai pengungkit dan membetot sikut pria itu di antara lututnya, menyentakkannya hingga pergelangan tangan pria itu mengeluarkan bunyi gemeretuk.

Mama pasti lebih handal melakukan hal seperti ini,” ia berceloteh, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada untuk mencegah cahaya roh pria itu agar tidak meninggalkan tubuhnya, “tapi butuh dua hari untuk berlari kembali ke desaku. Aku takut, jika aku meninggalkanmu sendirian, tidur kematian akan membawamu pergi.”

Akhirnya ia selesai melakukan semua yang ia bisa. Kini sisanya tergantung pada diri pria itu sendiri. Apakah ia akan hidup, atau memilih untuk berlalu ke Dunia Mimpi. Yang bisa Ninsianna lakukan hanyalah menyemangatinya untuk tetap hidup.

Kulit pria itu begitu pucat dan lembap; jantungnya berdegup tak teratur dan denyutnya terlalu amat sangat lemah. Untuk melawan tidur kematian, Ninsianna harus menjaganya agar tetap hangat. Ia mengambil selimut yang ia bawa di dalam tasnya dan menyelimutinya.

Pria itu menggigil.

“Aku harus menghangatkanmu.”

Ia meringkuk di sisi pria itu untuk menyalurkan kehangatan dari tubuhnya.

Karena keletihan, Ninsianna pun tertidur lelap.


Bab 5

Tanggal Standar Galaksi: 152,323.02 AE (Setelah Eksodus)

Orbit Bumi: SRN ‘Jamaran’

Letnan Kasib

Letnan. KASIB

SRN Jamaran mengorbit planet bersumber daya biru, ke mana Shay’tan (seribu hormat atas namanya) telah mengutus kapal penjelajah perang ini untuk menguasainya. Letnan Kasib dari Angkatan Laut Kerajaan Setan memandangi perangkat komunikasi kapal itu, sebuah layar datar hitam putih tanpa hiasan apapun, sama seperti belasan layar lainnya yang mengelilingi pusat komando. Ia menjentikkan jarinya sembari memeriksa laporan-laporan yang masuk dari permukaan planet itu.

Di kursi komando di belakangnya, sirip tajam di punggung Jenderal Hudhafah berdiri karena jengkel.

“Ada kabar tentang kapal pengintai Malaikat itu?” Ia mendesis.

Kasib membaca laporan-laporan yang masuk dengan mata ular hijau keemasannya.

“Kita tidak mendeteksi adanya tanda-tanda energi yang terpancar dari planet itu, Jenderal,” kata Kasib. “Sepertinya kapal itu hancur ketika kembali memasuki atmosfer planet.”

“Dan bagaimana dengan puing-puing kapalnya?”

Ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang dua untuk mengecap feromon di udara yang menunjukkan tingkat kekesalan Jenderal Hudhafah. Seperti layaknya semua prajurit berpangkat rendah yang mengabdi di bala tentara Shay’tan, ia sangat waspada kalau-kalau kulit di leher atasannya itu memerah sedikit saja.

“Kapal itu hancur di sini.”

Ia menunjuk kepada suatu bagian dalam peta, sebuah laut sempit di mana dua sungai besar bermuara di tengah gurun kuning kehitaman yang gersang.

“Perhitungkan titik jatuh kapal itu dan temukan puing-puingnya.” “Temukan puing-puing kapalnya.” Jendral Hudhafah memperlihatkan taring-taringnya. “Jangan sampai Aliansi mengetahui apa yang telah kita temukan.”


Bab 6

Februari - 3,390 SM

Bumi: Lokasi Kapal Jatuh

.

Sakit... tapi tidak sesakit sebelumnya. Bukankah ada roh yang telah datang untuk menuntunnya ke dunia mimpi? Ia menemukan sosok roh yang hangat dan lembut itu bersarang di sisinya, pipinya bersandar di lengannya sementara dadanya naik turun dengan irama lembut dari tidur yang damai dan fana. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menyadari bahwa ia masih hidup.

“Apakah kau adalah jodohku?” Ia bertanya.

Ia menyentuh rambut panjang berwarna gelap yang terjatuh di wajah wanita itu dan menarik sehelai rambut keluar dari bibir merah mudanya yang tebal. Wanita itu telah menciumnya saat ia berdiri di ambang pintu kehampaan.

Jika ini adalah Alam Mimpi, mengapa rasa sakitnya seperti di Neraka?

Ia mengangkat lengannya dan memperhatikan belat yang dibuat oleh wanita itu dari puing-puing dan potongan kawat yang berjatuhan. Ia menggerakkan kedua kakinya untuk meyakinkan diri bahwa kakinya masih utuh, lalu memalingkan wajah untuk mengecek sayapnya yang patah. Akankah ia bisa kembali terbang? Itu tergantung dari gravitasi di planet ini.

Informasi beterbangan di kepalanya. Ada sesuatu yang mendesak tentang planet ini, namun gambar-gambar itu datang dan menghilang dengan cepat dari kepalanya.

Siapakah ia? Siapa namanya? Yang ia tahu hanyalah bahwa wanita ini telah mengambil tindakan heroik untuk menyelamatkan nyawanya dan kini sedang meringkuk dan tertidur di sisinya dengan cara yang terasa asing namun juga menimbulkan suatu kerinduan yang begitu hangat. Entah mengapa aroma dari wanita itu membangkitkan suatu naluri, jauh di dalam raganya. Kulitnya menggelenyar di setiap bagian di mana tubuh wanita itu menyentuh tubuhnya.

Mungkin ia adalah roh? Jika ini adalah kematian, rasanya tidak terlalu buruk.

Ia menekuk sayapnya yang utuh agar tidak membangunkan wanita itu, lalu ia menarik wanita itu lebih dekat, membalutkan sayapnya di sekeliling wanita itu seperti selimut sebelum ia sendiri kembali terlelap dalam tidur.

*

O-kim-hayatını bağışlaması için uygun gördüm.”

Ia terbangun dan mendapati wanita itu sedang berlutut di sisinya. Kedua tangan wanita itu menekankan kata-katanya saat ia menuangkan setetes demi setetes air dari kantong air ke sehelai kain dan menyeka darah dari kulitnya. Ia memperhatikan wanita itu bekerja, terkagum dengan rambut gelapnya yang bergelombang, kulit zaitunnya, serta mata kuning kecokelatannya yang unik. Mata yang seolah begitu ia kenal. Perlahan-lahan ia semakin mengerti bahwa wanita itu sedang menjelaskan tentang luka-lukanya.

Suatu rasa ingin tahu yang mendesak mencengkeram perutnya dengan kuat.

“Siapakah kau?” Ia bertanya.

Wanita itu tersenyum dan mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti.

Setiap nuansa perilaku wanita itu terus menggerogoti pikiran bawah sadarnya. Baju kremnya yang tak berbentuk itu terlihat seperti kain yang dibelitkan di pinggangnya lalu ke pundaknya untuk menutupi buah dadanya yang montok. Kainnya terlihat sederhana, sama seperti alat-alat yang ia gunakan untuk merawat luka-lukanya; alat-alat dari budaya jaman batu.

Demi para dewa! Bagaimana wanita ini bisa menyelamatkan nyawanya?

“Siapakah?” Ia menyilangkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas sebagai isyarat bertanya. “Engkau?” Ia menunjuk ke dada wanita itu.

“Nin-si-anna.” Wanita itu menengadahkan telapak tangannya. “Siapa... kah... engkau?” Ia mengulangi kata demi kata dalam bahasanya.

Ia mendera pikirannya. Tak ada satu hal pun yang bisa ia ingat. Wanita itu kembali mengulangi pertanyaannya. Bagaimana caranya untuk menjelaskan pada seseorang yang tak mengerti bahasanya bahwa ia tidak bisa mengingat siapa dirinya?

“Aku tak tahu.”

“Ninsianna,” wanita itu menunjuk dadanya sendiri. “Akutaktahu,” kata wanita itu sembari menunjuk pada dirinya.

“Bukan.” Ia menggelengkan kepalanya. “Aku tak ingat.”

“Ninsianna,” wanita itu menunjuk dadanya sendiri. “Akutakingat,” kata wanita itu sembari menunjuk pada dirinya lagi.

“Bukan! Aku tak tahu siapa diriku. Aku tak bisa mengingat!”

Ia memukul dahinya sendiri untuk memperjelas maksudnya. Rasa sakit yang menusuk menembus tengkoraknya. Ia menutup matanya hingga vertigonya berlalu.

Wanita itu memberengut sampai akhirnya bisa mengerti apa yang ia coba utarakan. Ia lalu menyentuh kepalanya, di mana rasa sakitnya paling terasa. Di bawah rambutnya, sebuah benjolan mengerikan membuktikan bahwa kepalanya telah terhantam sesuatu.

Ninsianna melanjutkan perawatannya, menyeka darah kering dari kulit kepalanya. Sesekali wanita itu berhenti sejenak untuk menepuk-nepuk sayapnya, seakan belum pernah melihat benda itu sebelumnya. Sepertinya wanita itu sedang berusaha menjelaskan luka-luka pada dirinya, namun ia sendiri tidak bisa mengerti satu patah kata pun.

Ia berusaha untuk tidak meringis, karena tak ingin melihat ekspresi cemas wanita itu setiap kali ia tersentak. Ketika wanita itu sampai kepada luka di dadanya, ia menunjuk ke arah sepasang keping perak heksagonal yang tergantung di lehernya dengan seuntai rantai yang kuat.

Ia menarik rantai itu dari bawah bajunya, lalu membaca informasi yang terukir di keping itu dengan tulisan kotak-kotak kuno berbentuk baji.

.

Kolonel Mikhail Mannuki’ili

352d SOG

Angkatan Udara Malaikat

Aliansi Galaksi Kedua

.

Walaupun informasi itu tidak berhasil mengembalikan ingatan apapun tentang dirinya, ia mengerti arti dari informasi tersebut. Satu-satunya alasan mengapa seorang prajurit mengenakan kalung pengenal adalah agar teman seperjuangannya bisa mengenali jasadnya untuk dikuburkan. Ini mungkin hanya sedikit informasi, tapi setidaknya kini ia mengetahui sedikit tentang dirinya.

“Aku adalah seorang prajurit,” katanya. “Prajurit dari Aliansi Galaksi.”

Walaupun ia tak bisa mengingat apapun, namun itu berarti ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Ia menunjuk ke arah Ninsianna.

“Kau adalah Ninsianna.”

Ia menunjuk ke dadanya sendiri.

“Aku adalah Mikhail.”

Ninsianna tersenyum.

“Mikhail?”

“Ya.”

Ninsianna mengulangi namanya beberapa kali, lalu menyodorkan kantong air berbulunya yang primitif dan menempelkannya ke bibirnya.

İçki,” kata wanita itu. Sisanya tak bisa ia mengerti kecuali kata terakhirnya. “Oke?” Minum, mungkin?

Ya.

“O-ke,” ia mengulangi.

Ia menegak air di kantong kulit itu sampai kosong.

Ninsianna menunjuk ke arah retakan yang membelah lambung kapal. Ia kemudian menarik selimut hingga menutupi leher Mikhail dan mengkomunikasikan, dengan tangannya, bahwa ia ingin agar Mikhail tidur.

Ia akan pergi mengambil air?

“O-ke,” katanya sembari ragu-ragu.

Ninsianna menyelinap keluar dari celah itu.

Saat ia berbaring di situ, ia kemudian menyadari betapa rentan keadaan dirinya.


Bab 7

Februari - 3,390 BC

Bumi: Lokasi kapal jatuh

NINSIANNA

Ninsianna berjuang menuruni aliran air yang mengalir dari gunung ke sebuah oasis berbentuk mangkuk. Hari kini sudah terang, sehingga ia bisa melihat tempat yang telah dipilih oleh sang dewi untuk mengirimkan penyelamatnya. Tempat itu adalah sebuah pulau firdaus kecil di tengah gurun, di mana tumbuh-tumbuhan lebat memenuhi kedua sisi dari oasis yang mendapat aliran air dari gunung. Udaranya tercium begitu subur dan dipenuhi oleh kehidupan.

Pantas saja suku Halifi menganggap tempat ini keramat!

Ia berputar menari-nari, mengarang hal-hal pintar yang akan ia ucapkan pada pasien barunya dengan menggunakan bahasa isyarat.

“Bebas! Aku bebas!”

Dan bukan hanya itu, tapi ada makhluk surgawi yang kini selamanya berhutang nyawa padanya!

Ia kemudian melompat seperti anak perempuan kecil ketika sebuah bayang-bayang kecil memotong langkahnya. Seekor burung elang emas yang besar menukik ke arah sungai yang melebar menjadi kolam di belakang bebatuan.

“Sebuah pertanda!”

Elang itu menukik ke bawah permukaan air, sayapnya memukul air saat ia kembali naik dengan membawa seekor ikan yang gemuk. Ninsianna tertawa saat elang itu membawa santapan makan malamnya yang menggeliat-geliat naik ke langit.

“Terima kasih, Ibu! Aku akan menangkap ikan untuk makan malam!”

Ia mendera ingatannya tentang sedikit pengetahuan yang ia miliki tentang amnesia. Mama pernah menceritakan tentang seorang prajurit yang hilang ingatan setelah menerima pukulan di kepalanya. Biasanya ingatan-ingatannya akan kembali setelah beberapa jam. Tapi Mikhail (Ninsianna mengucapkan namanya beberapa kali dan ia suka bagaimana lidahnya menggulung saat mengucapkan nama itu) sepertinya cukup sadar diri untuk seseorang yang tak bisa mengingat namanya sendiri. Mungkinkah ia salah mengartikan pertanyaan Ninsianna? Ataukah ia sengaja menyembunyikan informasi tentang dirinya? Ah, sudahlah. Toh yang penting, Ia-Yang-Adalah telah menjawab doanya.

Ia sampai kepada sungai kecil yang sedang pasang karena hujan musim dingin yang mengalir dari gunung keramat itu, lalu mengisi kembali kantong airnya. Cerminan dirinya terpancar dari permukaan air, wajah yang masih berlumuran darah Mikhail.

Mikhail tak akan membawa dirinya ke surga jika ia terlihat buruk rupa, kan?

Ia mengarungi air dan duduk di tempat di mana elang tadi menangkap mangsanya. Sungai itu cukup dalam untuk ia berendam sampai ke leher. Ia menggosok darah dari kedua tangannya, lalu tubuhnya, lalu membungkuk ke bawah permukaan air untuk membasahi kepalanya. Ia kembali duduk tegak, menyanyikan lagu kebebasan sambil menyisir rambut dengan jari-jarinya untuk membersihkan gumpalan-gumpalan darah kering dari rambutnya.

.

Pria yang datang dari langit,

Ia akan membawaku naik ke surga.

Bawa aku pergi dari sini!

Jauh dari intrik manusia.

.

Tiba-tiba, burung-burung terdiam. Ninsianna mengebaskan rambut basahnya ke belakang. Di ujung oasis, berdiri Jamin dan para prajuritnya sambil memegangi tombak mereka.

Sebuah rasa takut yang menggetarkan mencengkeram perut bagian bawahnya.

“Ninsianna!” Jamin memanggil. “Aku datang untuk membawamu pulang.”

Ninsianna menegakkan tubuh dengan sikap menantang.

“Pulang?” Katanya. “Aku tak punya rumah, kau ingat? Kau mengadu pada ayahmu seperti anak manja dan membuatnya menyatakan bahwa jika aku tidak menikahimu, maka aku akan diusir dari desa.” Ia mengisyaratkan ke arah oasis itu. “Seperti yang kau lihat, aku memilih untuk diusir. Sekarang pergilah!”

Para prajurit itu ternganga melihat sampan langit perak yang masih mengeluarkan asap dari salah satu cerobongnya yang hancur, walaupun kini sudah tidak lagi menyala merah karena api.

“Itu adalah pertanda buruk,” kata Jamin. “Para dewa telah menjatuhkan benda ini dari langit.”

Memangnya kau tahu apa tentang para dewa?” Ninsianna mencemooh. “Oh, kau yang bersumpah pada sang dewi bahwa kau akan mengajakku ke Nineveh? Lalu, ketika teman-temanmu menertawakanmu, kau lebih mempedulikan gengsi daripada calon pengantinmu!”

Jamin tersentak.

“Kau tak mengerti. Ayahku—“

Tak mau kau terkesan menerima perintah dari seorang wanita!” Ia berteriak. “Jadi karenanya, kau mengingkari janjimu. Maka itulah aku memutuskan pertunangan kita!”

Ninsianna menikmati ekspresi terluka dari Jamin saat ia membuang muka dan melipat kedua lengannya. Jamin terdengar seperti seekor bebek dengan leher terpilin.

Para prajurit itu tertawa.

“Kami sudah memperingatkanmu bahwa hal ini akan terjadi!” Kata Firouz.

Wanita di keluarga Immanu memang selalu memegang kendali,” kata Dadbeh.

“Ninsianna hanya marah padamu karena kau tidak mengizinkannya merajaimu,” kata Tirdard.

Pipi Jamin berkedut saat ia menunduk dan melihat kain mewah berlapis empat yang dililitkan di pinggangnya, yang menandainya sebagai seseorang yang terhormat.

Mungkin karena itulah kau menganggapnya begitu menarik?” Goda Firouz. “Kau ingin agar ia mengambil alih tugas-tugasmu sebagai kepala?”

Dadbeh mengulurkan tangannya ke dekat selangkangannya.

“Oh, Jamin,” Dadbeh berbicara dengan suara bernada tinggi yang dibuat-buat. “Kosongkan pispot, lalu aku ingin agar kau melayaniku dengan lidahmu.”

“Oh, Ninsianna,” kata Firouz dengan suara rendah palsu, “aku adalah budakmu!”

Ia berpura-pura menjilati tangan Dadbeh.

“Oh! Oh! Oo-oh!” Dadbeh mengerang dengan kenikmatan palsu. “Jangan berhenti! Oh! Jamin! Berikutnya kau harus menciumi jari-jari kakiku!”

Tirdard membungkuk, memegangi pinggangnya sembari tertawa.

Mata Jamin berubah hitam penuh amarah.

Ia menunjuk ke arah Ninsianna.

“Kau akan ikut denganku dan menjauh dari bintang jatuh yang terkutuk ini!”

Ninsianna menjorokkan dagunya ke depan.

“Tidak!”

“Oh, kau sebaiknya menurutiku!”

Ia mengarungi oasis itu, airnya bepercikan di sekelilingnya seolah ingin melarikan diri. Ninsianna berlari ke tepi sungai di seberang, jantungnya berdebar saat Jamin semakin mendekat ke arahnya. Jamin meraih lengannya.

“Lepaskan aku!”

“Ayahmu mengutusku untuk –“

Tidak!” Ia menendang dan menamparnya. “Kau BUKAN kepala sukuku! Dan aku tidak akan sudi menikahimu!”

Para prajurit itu tertawa.

Jamin menjambak rambutnya.

Kau akan belajar menghormatiku!”

“Aku tidak akan p—“

Teriakannya terputus saat Jamin mendorong wajahnya ke bawah permukaan air. Dengan teriakan kepanikan, Ninsianna berjuang untuk melepaskan cengkeramannya, namun jari-jari Jamin menjambak rambutnya dengan kuat. Dengan sentakan kasar, ia menarik Ninsianna kembali ke atas permukaan air.

“Kau menyerah?”

“Tidak!” Ninsianna tergagap. “Aku lebih baik menikahi seekor kambing!”

Para prajurit itu mengejek Jamin.

“Kau butuh bantuan menangani kambing perempuan itu?” Tanya Siamek.

“Tidak,” kata Jamin. “Tak ada masalah yang tak bisa dibereskan dengan hukuman yang pantas.”

Darah Ninsianna mendidih. Beraninya Jamin memperlakukan dirinya dengan begitu kurang ajar? Ia bukan saja putri dari seorang dukun, tapi ia juga adalah cucu dari Lugalbanda! Seorang dukun pejuang yang begitu saktinya hingga mampu menghentikan detak jantung para musuhnya!

Ia membayangkan semua hal-hal buruk yang ingin ia lakukan terhadap Jamin. Hal-hal yang kata orang bisa dilakukan oleh kakeknya, hal-hal yang dilarang Mama untuk dilakukan ayahnya. Energi yang ia rasakan sebelumnya, di dalam visinya, ketika ia mencabut tombak dari dada Mikhail, kini menggelora di badannya. Ia mengepalkan tinju dan memukul Jamin sekuat tenaga.

“Aku lebih baik mati!” Ia berteriak.

Saat ia melayangkan pukulannya, ia membayangkan dirinya sedang menghantam Jamin dengan sebuah batu.

Kepala Jamin tersentak ke belakang seolah ia telah menerima pukulan dari pria yang bertubuh jauh lebih besar.

“Kau, wanita ja –“ Jamin berteriak.

Kata-katanya terputus saat ia mendorong wajah Ninsianna kembali ke dalam air.

Air naik memenuhi hidungnya. Ia menendang dan memukul dengan segenap kekuatannya, namun berat tubuh Jamin lebih dari dua kali berat tubuhnya dan ia menjambak rambutnya dengan kuat. Dengan satu sentakan, Jamin menariknya keluar dari air.

“Kau menyerah?” Katanya.

Ia megap-megap menarik nafas.

“Tidak akan pernah!”

Ia melayangkan lututnya ke arah buah pelir Jamin.

“Aduh!” Jamin kesakitan.

Para prajurit itu menertawakannya.

“Hei, Jamin,” kata Firouz. “Kurasa kau telah menemukan tandinganmu!”

Cahaya roh Jamin berubah merah padam karena amarah.

“Aku akan mengajarimu apa arti hormat, perempuan!”

Ia kembali menenggelamkan kepala Ninsianna ke dalam air, dan kali ini, ia menahannya di dalam air hingga paru-paru Ninsianna seolah akan meledak. Tangan kakinya melemah saat tubuhnya kehabisan nafas. Detak jantungnya berdegup keras di telinganya. Dunia seakan semakin gelap dan jauh.

Ibu? Tolong aku...’ ia berdoa. ‘Aku tak cukup kuat untuk melawannya seorang diri...’

Tiba-tiba cengkeraman Jamin terlepas. Ninsianna menyembul ke atas permukaan air, terengah-engah menarik nafas yang begitu berharga. Kelima pria itu menatap ke arah sampan langit itu. Berjalan ke arah mereka. Mikhail datang dengan membentangkan sebelah sayapnya yang masih utuh, sementara sayap sebelahnya terseret tak berdaya di belakangnya.

“Iblis bersayap!” Mereka semua memekik.

Para prajurit itu mengangkat tombak mereka.

“Ia adalah pelindungku,” Ninsianna berseru, berharap bisa membuat mereka panik sebelum mereka keburu menyadari bahwa Mikhail sedang terluka parah. “Larilah, sebelum ia membunuh kalian di tempat di mana kalian berdiri!”

Mikhail mengangkat semacam tongkat. Hitam padat. Lebih besar dari pisau. Kilatan petir biru melesat keluar dari tongkat itu seperti bola api. Bebatuan meledak di dekat kaki para prajurit itu, menghempaskan mereka ke belakang seolah baru saja ditabrak oleh kawanan banteng Urus. Asap dan aroma seperti hujan badai terbawa oleh angin. Tanpa seruan apapun, para prajurit itu melarikan diri.

Jamin meraih Ninsianna dan mendorongnya ke belakang dirinya.

“Diam di belakangku,” ia mendesis.

Ia mengincar tombak yang ia tinggalkan di tepi sungai, tentunya sedang memperhitungkan peluang terbaiknya untuk menguasai keadaan.

Mikhail menunjuk ke arah mereka dengan tongkat api hitamnya yang asing.

"Lig di dul," ia menggeram.

Kilatan petir kedua mendarat amat sangat dekat di sisi Jamin. Ledakan air menyembur tinggi ke udara, lalu turun dan menghujani mereka dengan sentakan sensasi seperti sedang disengat oleh ratusan lebah. Jamin berteriak kesakitan, namun ia tidak juga melepaskan Ninsianna.

“Diam di belakangku,” kata Jamin. “Aku akan melindungimu.”

Mikhail mengarahkan tongkat apinya ke dada Jamin.

"Ninsianna, teacht anseo!” Ia mengisyaratkan padanya untuk berlari ke tepi.

“Langkahi dulu mayatku!” Jamin berteriak.

Ia melebarkan ancang-ancangnya agar terlihat mengancam sambil berdiri di air setinggi pinggang tanpa senjata dan kesempatan untuk melarikan diri.

Kedua predator alfa itu saling menatap satu sama lain, keduanya bertekad untuk mengambil Ninsianna sebagai hadiah mereka. Suatu luapan emosi berdesir di sekujur tubuh Ninsianna. Gladiator manakah yang akan menang? Mikhail tentunya lebih perkasa, namun ia sedang terluka parah, sementara Jamin berada dalam kondisi fisik yang prima. Ninsianna harus mengalihkan perhatian Jamin sebelum ia menyadari bahwa warna gelap di baju Mikhail adalah darah kering.

Ia mengepalkan tinju dan memukul wajah Jamin.

“Aduh!”

Ninsianna berhasil melepaskan diri.

Mengarungi air, ia berlari ke tepi sungai dan membeku. Butiran-butiran keringat dingin berkilauan di atas bibir biru Mikhail saat ia tergoyah, hampir tak sanggup mempertahankan kesadaran diri karena luka-lukanya. Jika ia tak sadar diri sekarang, Jamin pasti akan membunuhnya. Ninsianna berlari ke pelukannya dan melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangnya seolah sedang merangkul kekasihnya.

“Bertahanlah,” Ninsianna berbisik.

Dengan menggunakan segenap energi penyembuh yang ia miliki, Ninsianna mengerahkan dan menyalurkannya melalui kedua tangannya.

Ibu! Tolonglah!

Perasaan menggelenyar yang hangat berdesir di sekujur tubuhnya. Mikhail berhenti bergoyah saat energi itu mengalir dari tangan Ninsianna.

Jamin mengalihkan tatapannya dari Ninsianna kepada Mikhail, mata hitamnya dipenuhi oleh kekagetan, yang kemudian berubah menjadi kebencian saat ia sampai pada kesimpulan yang memang diharapkan oleh Ninsianna.

“Kau bilang kau mencintaiku?”

Putra kepala suku itu melangkah ke arahnya, tangannya terulur seperti seorang pengemis hina. Ninsianna mengangkat dagunya dan memeluk Mikhail sebagai ungkapan feminin universal yang berkata milikku.

Aku tak pernah berkata bahwa aku mencintaimu,” Ninsianna mendesis. “Aku bilang aku bersedia menikahimu karena kau berjanji untuk memperlakukanku sebagai seseorang yang sederajat denganmu! Tapi kau kemudian ingkar janji, jadi aku mendapatkan seseorang yang lebih baik!

Jamin menegang.

Tongkat api Mikhail berdengung di samping telinga Ninsianna, nadanya semakin melengking tinggi, seperti kawanan serigala yang bersiap untuk menyerang habis-habisan. Ia mengacungkan tongkat itu, sang hewan liar murka yang siap membunuh.

Téigh ar!” Mikhail menggeram. “Faigh an ifreann as anseo!”

“Kau akan menyesali perbuatanmu ini!” Kata Jamin.

Ia berlari keluar dari sungai dan meraih tombaknya. Tanpa melihat ke belakang, ia berlari ke arah yang sama ke mana teman-teman seperjuangannya telah pergi, ekspresinya begitu gelap hingga membuat Ninsianna merinding.

Begitu Jamin memanjat keluar dari cekungan lembah itu, Mikhail tumbang, hingga Ninsianna ikut ambruk di bawah pelukannya. Ninsianna menggeliat untuk membebaskan diri dari sayap-sayapnya yang besar dan memuntahkan bulu-bulu hitam kecokelatan yang masuk ke mulutnya.

Ia melihat ke ujung pinggiran lembah di mana Jamin telah menghilang.

Seharusnya ia merasakan sesuatu. Mungkin penyesalan? Namun ia tak merasakan apapun. Hanya perasaan lega karena pertunangan mereka telah berakhir.

Ia berlutut di tanah di sisi pasiennya. Tanah itu keras dan berbatu-batu, jadi ia menyelipkan pahanya di bawah kepala Mikhail.

“Sudah aman,” ia berbisik. “Jamin sudah pergi.”

Ia menyentuh leher Mikhail. Walaupun amat sangat pucat, denyutan yang stabil terasa di ujung jarinya yang sensitif. Dengan sebuah desahan, Ninsianna menutup mata saat energi yang ia rasakan tadi kini meninggalkan dirinya, membuatnya merasa lelah dan lemah seperti anak domba yang baru saja dilahirkan.

Di bawah sinar matahari, ia memperhatikan sayap Mikhail selebar dua puluh hasta yang begitu agung, hitam kecokelatan, dengan garis-garis hitam yang semakin memucat di dekat kulitnya. Ia menelusuri bulu-bulunya dengan jarinya, mengagumi perbedaan mencolok antara bulu-bulu utamanya yang panjang dan kaku, dan bulu-bulu di bagian bawahnya yang halus dan lembut.

Sayap! Sang dewi telah mengirimkan seorang pria bersayap!

Ia menyisir rambut pria itu dengan jari-jarinya, rambut dengan warna seperti biji pohon ek yang dibakar, yang begitu berkontras dengan kulitnya yang pucat dan putih kekuningan seperti susu kambing. Jari-jari Ninsianna menghafalkan setiap detail yang sempurna dari makhluk yang dipercayakan oleh sang dewi kepadanya. Bentuk wajahnya yang kokoh bukan berasal dari suku Ubaid, melainkan menyerupai pasukan batu api yang menghiasi tombak-tombak mereka: tajam, indah dan mematikan. Ia menelusuri dadanya yang kekar dan merasakan setiap goresan, tubuh seorang pejuang dalam kondisi puncak.

Makhluk setengah dewa kepunyaannya sendiri!

“Terima kasih karena telah mengirimkan seorang jagoan untuk menyelamatkanku,” ia berdoa.

Ninsianna menutup matanya dan memusatkan cahaya penyembuh dari Ia-Yang-Adalah melalui tangannya untuk mempercepat proses pemulihan pria itu, melakukan sihir terlarang dengan suara nyanyian seorang dukun. Tangannya menggelenyar: hangat, bahkan lebih hangat dibanding ketika ia memanjatkan doa untuk menyembuhkan si putra Kepala Suku.

Oh, syukurlah! Ia-Yang-Adalah telah mengabulkan doa-doanya!

Burung-burung mulai kembali berkicauan. Katak mendengkung. Belalang mendengung. Sang elang kembali dan menangkap satu ikan lagi. Saat elang itu membawa makan malamnya naik ke langit, Ninsianna menengadahkan wajahnya ke arah matahari.

Bolehkan aku memilikinya? Aku sangat ingin memilikinya.”

Ia menyentuh sayap hitam kecokelatannya dan membersut.

Tapi apa pula yang mungkin diinginkan seorang makhluk surgawi dari diriku?”



Bab 8

Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu:

Aku hendak naik ke langit,

Aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah,

Dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan,

Jauh di sebelah utara.

Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan,

Hendak menyamai Yang Maha Tinggi!

.

Yesaya 14:13-14

.

Tanggal Standar Galaksi: 152.323,02 AE

Haven-3: Aula Parlemen Aliansi

Perdana Menteri Lucifer

LUCIFER

Haven-3 adalah planet ketiga dalam tata surya artifisial dengan satu matahari alami dan dua matahari buatan yang lebih kecil, yang membuat matahari tidak pernah terbenam di ibukota Aliansi. Menara-menara bak di negeri dongeng berdiri dengan anggunnya ke arah langit, bangunan modern mengkilap yang terbuat dari kaca dan baja serta paduan plastik yang begitu kuat, hingga bahkan gempa bumi pun tak sanggup mengguncangkan pilar-pilar mereka. Dari landasan kapal angkasanya, lalu lintas pasang dan surut ke setiap planet dan tata surya di galaksi ini. Di pusatnya berdiri sebuah bangunan megah dan bundar, sehingga tak ada satu delegasi pun yang duduk lebih dekat dengan takhta kosong dibanding delegasi lainnya.

Sesosok makhluk seperti ular yang tinggi, yang agak menyerupai seekor naga, menaiki tangga sembari bertopang pada tongkatnya. Sang Juru Bicara Majelis Rendah Parlemen adalah sang naga Muqqibat, bukan naga sungguhan seperti Shay’tan, melainkan salah satu spesies yang telah memelopori pembentukan Aliansi. Ia berhenti di depan podium dan mengeluarkan kacamatanya sebelum mengambil palunya.

“Sang Perdana Menteri akan berbicara di hadapan Parlemen,” katanya dengan suara formal.

Lucifer naik ke tengah panggung, sayapnya yang putih seperti salju tergantung dengan begitu berseni di belakang punggungnya seperti jubah sang Kaisar Abadi. Balkon demi balkon tersusun ke arah kubah; setiap delegasi mewakili dunianya masing-masing dalam sebuah kerajaan yang terbentang seluas hampir setengah galaksi. Para delegasi itu berasal dari spesies yang sangat bervariasi, sama seperti dunia yang mereka wakili: mamalia, insekta, amfibi, dan wujud-wujud makhluk hidup lainnya. Setiap spesies datang dari dunia di mana mereka berevolusi secara alamiah di bawah perlindungan sang Kaisar Abadi hingga mereka mencapai tingkat kesadaran yang cukup untuk mendapatkan keanggotaan di Aliansi Galaksi. Setiap spesies memiliki suara untuk menyatakan hak-hak mereka; setiap spesies kecuali satu...


Continue reading this ebook at Smashwords.
Download this book for your ebook reader.
(Pages 1-47 show above.)