Excerpt for Gadis Pengobat Resahku by , available in its entirety at Smashwords



Gadis Pengobat Resahku



Hai A-Wan’s, sebelum kalian menikmati novel ini, tolong baca puisi ini dulu ya 

Kerinduan Tanpa Jawab


Tak ada suara terdengar tanpa getaran di udara
Dimana ku harus mencari bayang-bayang hadir dirimu
Kau menghilang dalam angan
Kau melayang dibuainya

Kau tak ada di sana temani langkahku
Ingin ku melupakannya (Hilang tak kembali)
Aku ada disana dan terus mencari
Ingin ku menemukannya (Hilang tak kembali)

Andaikan semuanya bisa kujelaskan dengan logika
Firasat ini buatku melayang dan merasa hilang dibuainya

Kau tak ada disana temani langkahku
Ingin ku melupakannya (Hilang tak kembali)
Aku ada disana dan terus mencari
Ingin ku menemukannya (Hilang tak kembali)

Biar semua rasa menyatu dalam misteri
Ingin ku menemukannya

Kau tak ada disana temani langkahku
Ingin ku melupakannya (Hilang tak kembali)
Aku ada disana dan terus mencari
Ingin ku menemukannya (Hilang tak kembali)

Daftar Isi

PROLOG

Seorang gadis baru saja keluar dari kendaraan umum yang dinaikinya. Gadis itu menghela napas begitu sampai di tempat tujuannya, melangkah masuk perlahan. Namun, setelah beberapa langkah, sebuah pemandangan mengalihkan perhatian gadis itu. Seorang lelaki tampak sedang termenung, dengan tubuh yang dibalut pakaian khas tempat itu. Sinar matahari yang langsung mengenai wajah pria itu memperjelas garis wajahnya dan tanpa sadar gadis itu melangkahkan kakinya ke taman kecil itu, mendekati pria yang berhasil mencuri perhatian si gadis bahkan tanpa perlu berinteraksi. Pria dengan boneka kura-kura berwarna hijau di pelukannya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya gadis itu. Tapi pria itu hanya diam, tak menjawab. Tatapan pria itu sama sekali tak fokus, hanya melihat ikan-ikan yang berenang di kolam kecil di hadapannya, seakan ikan-ikan itu lebih terlihat menarik daripada apapun juga. Namun walau pria itu tak menatap gadis itu secara langsung, gadis itu yakin bahwa pria tersebut masih dapat mendengarnya. Mendengar gadis itu dengan jelas, meski konsentrasi si pria mungkin sedang terpecah belah.

"Kau pasti memiliki banyak beban, ya?" tanya gadis itu lagi. Namun pria itu tetap diam.

Tampan, pria itu sangat tampan. Namun terlihat jelas sekali di wajah polosnya jika pria itu memiliki banyak beban yang menumpuk. Yang terlalu banyak hingga tak dapat dikeluarkan lagi. Terlalu banyak hingga tak dapat diceritakan, terlalu banyak hingga merusakkan pola pikir pria itu.

"Jika kau memiliki terlalu banyak beban, lakukan ini." Gadis itu meraih tangan kanan sang pria, mengarahkannya pada sinar matahari, membuat pria itu sedikit menyipitkan matanya karena silau. Sang pria hanya diam dan membiarkan gadis itu melakukan apa yang gadis itu inginkan.

"Matahari yang panas itu akan menguapkan semua bebanmu. Menghapusnya perlahan. Lalu, semakin lama akan semakin habis," ucap gadis itu perlahan dengan kalimat yang mudah untuk dimengerti. Membuat pria yang dilihat si gadis itu menoleh ke arah si gadis meski masih dengan tatapan kosong.

Gadis itu melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan terlonjak kaget. Ternyata gadis itu sudah menghabiskan banyak waktu dengan pria itu.

"Ah, aku akan ke sana dulu! Ingat apa yang kukatakan tadi, ya!" seru gadis itu dan kembali berlari, meninggalkan pria yang masih memperhatikan tangannya sendiri.

Pria itu tersenyum, sambil terus memperhatikan tangannya. Perlahan pria itu mengangkat tangannya ke udara lalu memejamkan mata, membiarkan angin berhembus dan menggerak-gerakkan rambut hitam pekatnya.

"Matahari, uap, beban, menghilang," ucapnya lirih.

Pria itu menoleh ke arah punggung gadis itu, yang semakin menjauh hingga perlahan-lahan tak kelihatan lagi. Pria itu kembali menggumam, "Terimakasih..."

Pertemuan



Seorang pria menengadahkan kepala ke arah langit dan meregangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri, hanya sekedar mengendurkan otot-ototnya, yang seakan berteriak meminta berhenti beraktivitas. Setelah merasa cukup ringan, pria itu segera duduk di sebuah bangku, yang memang telah tersedia di depan restoran milik pria itu.

Pria itu mencoba memejamkan mata di balik kacamata hitam, yang dikenakan pria itu, seraya mengulurkan tangan kanan ke arah langit. Mencoba berkonsentrasi, mencari hal yang selama ini diinginkan. Namun masih belum sempat terwujud hingga saat ini. 'Ketenangan'.

Pria itu selalu melakukan hal itu. Pria itu percaya bahwa sinar matahari dapat menguapkan kejenuhan yang telah tertumpuk di dalam pikirannya. Dan tangan pria itu terulur untuk melepaskan semua beban pikiran. Pria itu tak tahu sejak kapan pria itu memulai melakukan hal yang tidak biasa itu. Dan siapa yang mengajari hal itu. Yang bisa diingat pria itu hanyalah gerakan dan kepercayaan, itu saja. Sayang sekali. Jika saja ingatan pria itu tak terhapus, pria itu ingin melakukan hal itu dengan orang yang mengajarkannya.

Matanya terus terpejam. Sama sekali tidak peduli dengan puluhan pasang mata dan kamera tersembunyi yang saat ini sedang membidik ke arah pria itu. Terkadang menjadi terkenal bukanlah sesuatu yang bagus juga. Namun ada kalanya hal itu justru menjadi yang pertama kali membuat pria itu tersenyum. Saat pria itu berada pada titik maksimum kejenuhannya. Senyuman dari para penggemar, dukungan dan dorongan mereka. Keyakinan mereka terhadap pria itu, semua itu membuat pria itu merasa hidup.

"Yesung Oppa1, bolehkah aku berfoto denganmu?" Pria itu mendengar suara seorang gadis yang kira-kira berada tepat di depannya. Pria itu membuka matanya perlahan, mencoba menyampaikan keteduhan pada mata gadis itu seraya tersenyum dan mengangguk.

Jika saja pria itu dapat mengatakan 'tidak' tanpa membuat gadis itu kecewa, pasti sudah diucapkannya kata itu. Karena 'ketenangan', sungguh adalah hal yangat sangat pria itu butuhkan. Namun tidak bisa, pria itu tak sampai hati untuk mengucapkan kata itu. Dan pada akhirnya, menepuk spasi kosong pada bangku yang diduduki pria tersebut. Mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sebelah pria itu. Gadis itu terlihat senang dan melompat kecil, sampai akhirnya duduk di bangku yang sama dengan pria itu. Mencoba mengambil posisi senyaman mungkin. Namun tanpa disadari gadis itu, pria yang selalu dipanggil Yesung --- padahal nama aslinya Kim Jong Woon --- menghela napas berat. Lagi-lagi belum bisa mendapatkan 'ketenangan'. Bahkan saat pria itu tak berada di lingkungan manajemen musiknya sekalipun.

Padahal pria itu keluar dari restoran karena telah selesai mengadakan perekrutan pegawai untuk restorannya --- yang baru saja dibuka. Tapi ternyata memang angin tenang juga masih belum menyalurkan 'ketenangan' pada Jong-Woon.

"Satu... dua... klik!"

Gadis itu berdiri dan segera memeriksa layar ponselnya. Gadis itu terlonjak senang dan segera berterima kasih, sambil membungkukkan badan, pada Jong-Woon. Dan setelahnya, gadis itu berlari ke arah segerombolan temannya. Yang telah menunggu hasil perjuangannya. Sebuah foto selca2 dengan idola merupakan salah satu hal yang paling diinginkan oleh seorang fangirls3, bukan?

Jong-Woon tersenyum kecil, saat mendengar seruan bahagia yang terlontar dari mulut gadis itu. Namun segera hilang, saat suasana hati Jong-Woon kembali buruk. Jong-Woon menepuk pelan dadanya. Selalu terasa sakit, saat melihat seorang gadis yang seumuran dengan adiknya.

Jika saja Jong-Woon bisa lebih cepat saat itu....

Jika saja Jong-Woon dapat menghentikan....

Mungkin Jong-Woon masih dapat melihat adiknya tersenyum, dengan sangat manis, saat ini. Adiknya masih dapat memeluk Jong-Woon dan memanggil 'Oppa' lagi. Menangis di bahunya, dan bercerita tentang semua hal yang terjadi di kehidupannya. Jong-Woon selalu suka suara itu, suara gadis itu, suara adiknya. Jong-Woon sangat senang (saat) mendengarkan celotehan dan cerita-cerita adiknya.

Namun 'jika saja' tetaplah hanya sebuah kalimat. Dan kalimat serta penyesalan itu sama sekali tak dapat menyelesaikan permasalahan. Apalagi yang telah lama terjadi, yang telah banyak dilupakan orang. Namun menjadi satu-satunya kenangan yang diingat Jong-Woon.

Jong-Woon sangat merindukan adik manisnya. Namun Jong-Woon sadar di mana tempatnya saat ini. Jong-Woon tak boleh seperti ini. Jong-Woon tak boleh dengan gamblang memperlihatkan kelemahannya di depan umum, di depan puluhan pasang mata yang memperhatikan Jong-Woon secara sembunyi-sembunyi. Walaupun sebenarnya Jong-Woon dapat melihat mereka semua dengan jelas. Dan merasa sedikit risih dengan kamera yang mengambil gambar setiap pergerakan Jong-Woon.

Jong-Woon merasa kurang nyaman saat kehidupan pribadinya diusik orang lain. Meski Jong-Woon tahu bahwa itulah risikonya. Menjadi orang terkenal selalu mempunyai risiko semacam ini. Kehidupan pribadi yang tercampuri oleh orang lain, dan keharusan untuk tersenyum, saat Jong-Woon berada dalam keadaan terpuruk sekalipun.

"Kim Jong-Woon hebat! Fighting!" Jong-Woon menyeru pada diri sendiri.

Daripada membuat puluhan pasang mata itu cemas, Jong-Woon pun memutuskan untuk masuk ke dalam restoran. Namun baru saja Jong-Woon melangkah ke depan pintu masuk, seorang gadis menginterupsi. Kata 'tenang' sepertinya memanglah sangat jauh dari kehidupan Jong-Woon.

Namun, tunggu, bukankah memang bukan hidup namanya jika hidup hanya tenang-tenang saja? Walaupun tak bisa dikatakan hidup juga jika tak memiliki 'waktu tenang' sedikit pun. Bukankah begitu?

"Maafkan aku. Aku terlambat. Apakah aku masih bisa melamar pekerjaan?" tanya gadis berambut panjang sambil membungkuk rendah berulang kali, membuat gadis itu terlihat seperti penyanyi rock yang sedang menggoyang-goyangkan kepala ke atas dan ke bawah. Napas gadis itu masih terengah, terlihat sekali bahwa gadis itu telah berlari cukup kencang untuk dapat tiba di restoran ini.

Mata Jong-Woon terbelalak lebar melihat gadis yang menghalangi langkahnya tersebut.

Jong-Woon segera melepas kacamata hitamnya. Mungkin saja gadis itu jadi terlihat seperti Jong-Yeon. Astaga. Masih tetap sama! Wajah itu, satu-satunya wajah yang selalu diingat Jong-Woon. Jong-Yeon. Adik bungsu Jong-Woon setelah Jong-Jin. Adik yang sangat dirindukan Jong-Woon. Adik yang membuat Jong-Woon selalu dilanda rasa bersalah karena telah melakukan hal yang bahkan Jong-Woon sendiri pun tak dapat mengingatnya. Yang Jong-Woon tahu, Jong-Woon terlambat. Jong-Woon terlambat untuk menyelamatkan adiknya. Hanya itu.

"Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Dia hanya bagian dari khayalanku. Kim Jong-Woon, kau akan benar-benar gila jika terus seperti ini!" seru Jong-Woon pada dirinya sendiri. Dan berjalan tanpa melihat sosok gadis --- yang dilihat Jong-Woon sebagai Jong-Yeon --- itu.

"Maafkan aku. Tolong berikan aku kesempatan. Aku dapat bekerja dengan baik! Kumohon...," ucap gadis tersebut seraya membungkukkan badannya --- nyaris sembilan puluh derajat --- kepada Jong-Woon. Berulang kali. Sekarang gadis itu terlihat seperti robot dengan tombol yang dapat membuat gadis itu membungkuk otomatis. Jong-Woon sempat berpikir, lucu juga jika Jong-Woon bisa memiliki robot seperti itu.

Jong-Woon kembali menolehkan kepalanya pada gadis itu, memperhatikan gadis itu lekat-lekat. Suara di dalam pikiran Jong-Woon kini mendominasi. "Gadis ini pasti Jong-Yeon! Jong-Yeon telah kembali untuk menemui Jong-Woon! Pasti Jong-Yeon sangat rindu pada kakaknya ini, kan?" Rasa egois itu muncul kembali dari bawah alam sadar Jong-Woon.

Tanpa berpikir lagi, Jong-Woon segera memeluk gadis itu. Mendekap gadis itu sangat erat. Jong-Woon tidak sedang berhalusinasi, Jong-Woon tidak gila. Jong-Yeon memang kembali untuk Jong-Woon!

"Jong-Yeon~a4 aku tahu kau pasti akan kembali. Ke mana saja kau selama ini?" ucap Jong-Woon sambil memeluk gadis itu sangat erat. Seakan tak ada hari esok. Seakan Jong-Woon akan kembali jatuh ke dalam jurang rasa bersalah jika Jong-Woon mengendurkan sedikit saja pelukannya. Gadis itu tidak boleh meninggalkan Jong-Woon. Lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya!

"Jong-Yeon~a, jangan pernah meninggalkanku lagi. Aku berjanji aku akan menjagamu dengan sangat baik kali ini." ucap Jong-Woon sambil mengelus pelan punggung gadis itu.

Sedangkan gadis itu tetap diam. Tak menerima, namun juga tidak menolak. Logis si gadis berpikir untuk tak membiarkan orang --- yang bahkan tak diketahuinya --- itu memeluknya,namun hati si gadis bekerja sebaliknya. Gadis itu ingin menikmati kehangatan itu lebih lama.

Gadis itu sama sekali tak mengenal pria itu, namun pelukan dan tangan pria itu terasa sangat hangat dan nyaman, seakan tidak ingin melepas pria itu. Meski gadis itu sama sekali tak tahu, siapa pria --- yang memanggilnya dengan nama 'Jong-Yeon' --- itu. Nama yang benar-benar tak pernah didengar gadis itu. Namun pria itu, suaranya sangat menenangkan. Jenis suara yang disukai gadis itu.

Gadis itu membelalakkan matanya begitu menyadari bahwa ada banyak mata yang memperhatikan mereka, seakan mereka sedang memainkan drama. Seakan-akan gadis itu berubah menjadi Juliet yang menemukan Romeo. Itu cerita lama. Membosankan.

"Kasihan sekali Jong-Woon Oppa. Jong-Woon Oppa pasti sangat merindukan adiknya.."

"Gadis itu benar-benar mirip dengan Jong-Yeon Eonni, ya?"

Gadis itu mendengarnya. Mendengar bisikan-bisikan itu. Dan memutuskan untuk segera melepaskan pria itu, sebelum orang-orang mulai berbicara yang tidak-tidak tentang mereka berdua. Gadis itu memang tidak tahu siapa Jong-Woon yang mereka maksudkan, tapi gadis itu yakin bahwa pria yang sedang memeluknya inilah yang bernama Jong-Woon. Terlihat jelas dari bagaimana orang-orang itu melihat ke arah pria yang tadi memeluk si gadis. Memangnya ada apa dengan adiknya Jong-Woon? Hingga Jong-Woon memeluk gadis itu seperti itu. Dan meminta gadis itu untuk tidak pergi lagi.

Dan siapapun Jong-Woon itu, Jong-Woon pasti adalah orang yang terkenal. Gadis itu tak ingin mengambil risiko untuk berada dalam sebuah skandal, hubungan selebritis atau pengusaha terkenal. Ha-Na tak tahu. Yang Ha-Na tahu adalah skandal tak akan baik untuk pria yang telah memeluknya ini. Dan yang pasti tak baik untuk Ha-Na.

"Hm... itu... aku bukan Jong-Yeon," gumam gadis itu lirih, takut akan membuat pria tersebut kecewa, takut membuat pria itu semakin putus asa.

Sebenarnya Ha-Na berpikir, untuk apa Ha-Na takut membuat orang itu kecewa? Di lubuk hati Ha-Na yang paling dalam, Ha-Na telah menyatakan bahwa pria ini pasti tidak normal. Tapi jika itu dikatakan secara gamblang, apalagi saat Ha-Na ingin melamar kerja, sepertinya itu bukanlah hal yang patut dilakukan. Mungkin lain kali? Ah tidak, tentu saja tidak boleh. Jika lain kali, berarti pria itu telah menjadi atasan Ha-Na, dan mengatakan hal yang seperti itu juga tak akan bagus untuk kelangsungan karier Ha-Na.

"Kau ini bicara apa? Ayo ikut aku! Kyuhyun pasti juga merindukanmu!" ucap Jong-Woon dan segera menarik tangan Ha-Na tanpa meminta konfirmasi terlebih dahulu, sehingga mau tidak mau Ha-Na terus mengikuti Jong-Woon masuk ke dalam restorannya. Namun sebenarnya bagus juga, setidaknya jika Ha-Na masuk ke dalam restoran mungkin saja Ha-Na akan diterima kerja, kan?

Ha-Na memperhatikan jari-jari yang menggenggam pergelangan tangannya. Dalam hati Ha-Na ingin berteriak betapa kecilnya jemari yang mencengkeram pergelangan tangannya itu, seperti "jarimu sangat kecil, berani sekali kau menarikku, hah?" atau "percaya diri sekali kau menarikku dengan tangan sekecil ini?" atau mungkin "bahkan ukuran jari kita sepertinya sama". Namun tentu saja Ha-Na mengurungkan niatnya itu. Karena Ha-Na sangat membutuhkan pekerjaan saat ini. Dan sepertinya itu juga bukanlah pernyataan yang penting.

"Kyuhyun~a! Kemarilah! Cepat! Kau pasti takkan percaya dengan siapa yang kutemui hari ini! Jong-Yeon kembali, Kyuhyun~a!" jerit Jong-Woon, cukup keras hingga beberapa pelanggan melihat ke arah Jong-Woon dengan tatapan terkejut dan.... prihatin.

Kyuhyun yang mendengar suara sepupunya itu segera bangkit dari kursi di ruangannya, dan menghela napas. Sampai kapan sepupunya itu akan terus seperti ini? Baru beberapa hari yang lalu Jong-Woon telah berhenti menyebut-nyebut Jong-Yeon, jadi kenapa Jong-Woon bisa mulai seperti ini lagi?

"Hyung5, berhentilah. Sampai kapan kau akan-- Jong-Yeon?!" seru Kyuhyun, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Hingga tanpa sadar Kyuhyun menunjukkan ekspresi yang sangat berlebihan, bahkan matanya seperti akan copot sekarang.

Kyuhyun melihat sepupu perempuannya itu hidup kembali! Kyuhyun tak sedang berhalusinasi seperti Jong-Woon, kan? Kyuhyun mengusap kedua matanya perlahan. Kyuhyun benar-benar masih normal, kan? Tapi jika Kyuhyun masih normal, kenapa Kyuhyun juga melihat Jong-Yeon berdiri di depannya? Jangan-jangan wajah semua orang akan berubah menjadi wajah Jong-Yeon karena Kyuhyun telah terlalu lama bersama Jong-Woon?!

"Aku masih normal. Ini tidak mungkin," gumam Kyuhyun sambil menepuk-nepuk pelan pipinya, mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Barangkali Kyuhyun sedang bermimpi atau sungguh mulai berhalusinasi seperti Jong-Woon.

Kyuhyun berjalan mendekati Jong-Woon dan gadis itu. Mencoba meneliti lebih jauh tentang penglihatannya yang masih Kyuhyun ragukan.

"Kau----"

"Bukan... percayalah, aku bukan Jong-Yeon atau siapapun itu," sergah gadis itu cepat-cepat, karena gadis itu merasa bahwa pria yang dipanggil Kyuhyun tersebut pastilah lebih waras daripada pria yang hingga kini masih menggenggam tangannya cukup erat.

Kyuhyun mengerti maksud gadis itu. Pandangan Kyuhyun melunak. Cho Kyuhyun masih normal. Cho Kyuhyun masih normal!

"Berarti aku memang masih normal..," ucap Kyuhyun lega sambil mengelus dadanya.

"Apa yang kau katakan? Kyuhyun~a, Jong-Yeon telah kembali! Jong-Yeon pasti tahu bahwa kita sangat merindukannya. Iya, kan?" ujar Jong-Woon masih dengan wajah cerianya, meskipun matanya tak berkata demikian.

Jong-Woon sadar bahwa ini semua salah, namun Jong-Woon berpura-pura tidak tahu. Jong-Woon tak ingin menghadapi kenyataan itu lagi. Jong-Yeon-nya telah tiada. Lenyap. Dan meninggalkan Jong-Woon. Jong-Woon tak ingin menerima kenyataan itu. Tidak bisa.

"Hyung, tenanglah. Ini tak seperti yang kau pikirkan," ucap Kyuhyun sambil mengelus bahu sepupunya itu.

"Apa yang aku pikirkan? Apa kau tahu apa yang sedang kupikirkan, huh? Jong-Yeon sedang di sini. Kenapa kau tak menyambutnya?" tanya Jong-Woon dengan nada yang sedikit lebih tinggi.

"Hentikan, Hyung. Kau tak boleh terus seperti ini."

Hening. Jong-Woon terlihat menarik napas lalu menundukkan kepala. Kenapa ini terasa sangat sulit bagi Jong-Woon? Tidak bisakah Jong-Yeon benar-benar kembali pada Jong-Woon? Tidak bisakah hal yang seperti itu terjadi?

"Kyuhyun~a..." Suara Jong-Woon melunak. Perlahan Jong-Woon mulai melepas tangan gadis itu.

"Hyung, jangan terus seperti ini. Kau membuatku takut. Kumohon, Hyung, terimalah kenyataan itu. Aku tahu ini sangat sulit bagimu, tapi---"

"Aku akan berada di ruanganku," sergah Jong-Woon lirih sambil berjalan perlahan meninggalkan Kyuhyun, gadis itu dan beberapa pelanggan setianya.

Gadis itu menoleh pada Kyuhyun. Dari sorot matanya terlihat sekali bahwa gadis itu tengah meminta penjelasan tentang apa yang baru saja terjadi dan kenapa Jong-Woon bisa menganggapnya sebagai orang lain. Seakan tahu dengan apa yang dimaksudkan gadis itu, Kyuhyun pun menjawab, "Adiknya telah meninggal."

Gadis itu mengangguk. Kemudian gadis itu mengingat apa tujuan utamanya untuk datang ke tempat ini.

"Apa aku masih bisa melamar..."

"Kami tidak menerima orang yang tidak tepat waktu!" jerit Jong-Woon dari dalam ruangannya.

Kyuhyun menatap gadis itu dengan pandangan yang seolah mengatakan "kau sudah mendengar itu, kan?" dan bergegas kembali ke ruangannya.

"Tunggu aku! Kumohon, beri aku kesempatan! Aku bisa bekerja dengan baik!" seru gadis itu sambil mencoba menahan Kyuhyun yang akan segera masuk ke ruangannya.

"Aku dapat membuktikannya! Biarkan aku membuktikannya!" teriak gadis itu sekali lagi, dengan tatapan yang penuh keyakinan.

Kyuhyun memiringkan kepalanya sejenak dan berpikir, lalu menyipitkan mata dan mencoba meneliti gadis yang berada tepat di depannya itu.

"Kau benar-benar mirip Jong-Yeon," ucap Kyuhyun datar.

"Sudah kubilang aku bukan Jong-Yeon! Kumohon beri aku kesempatan, Kyuhyun~ssi6" ucap gadis itu sambil menundukkan wajahnya dan mencengkeram lengan Kyuhyun dengan kedua tangannya, mencegah Kyuhyun untuk kembali ke ruangannya.

Jong-Woon menatap ke arah gadis itu cukup lama dari pintu ruangannya, yang dibiarkan terbuka. Ada yang berbeda dengan reaksi tubuh Jong-Woon saat melihat gadis itu. Mungkin karena gadis tersebut terlalu mirip dengan adiknya, mungkin juga tidak, namun yang jelas perasaan itu membuat Jong-Woon ingin mempertahankan gadis itu di sisinya. Entah untuk membuat Jong-Woon terbiasa dengan wajah gadis itu --- yang mirip dengan Jong-Yeon --- yang mungkin bisa menyembuhkan Jong-Woon, atau mungkin karena alasan lain. Alasan yang Jong-Woon sendiri tak tahu.

"Kuberi kau 25 menit dan tunjukkan keahlianmu," ujar pria yang tiba-tiba sudah berdiri di samping gadis itu. Jong-Woon.

"Apa pria ini memiliki dua kepribadian?" Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa pria ini bisa berubah dengan sangat cepat? Tatapan pria ini pun seratus persen berubah. Mata layu yang tadi dipaksakan tersenyum, kini berganti dengan tatapan yang bahkan lebih tajam dari samurai. Bahkan mungkin tatapan mata itu bisa membantu si gadis untuk memotong-motong bahan masakan saat memasak nanti.

"Dimulai dari sekarang."

Gadis itu masih diam, dan mengerjapkan matanya berulang kali. Proses mencerna yang cukup lama, atau yang mungkin akan berujung pada sambungan eror. Mungkin jika wajah gadis itu adalah monitor, pasti di layar telah tertera tulisan system error, bahkan sebelum memulai proses loading.

"Dapur berada di koridor depan lalu belok kiri," ucap Jong-Woon lagi.

Gadis itu masih diam.

"Atau kau takkan kuberi kesempatan sama sekali." Bisikkan dengan nada yang terdengar sangat menakutkan itu kali ini menyadarkan gadis itu.

"Baiklah! Aku akan membuktikannya!" tukas gadis itu dan segera berlari menjauhi Jong-Woon. Gadis itu sangat ketakutan melihat mata tajam itu.

"Kau benar-benar memberi gadis itu kesempatan, Hyung? Tidakkah itu akan menyiksa dirimu sendiri?" tanya Kyuhyun cemas.

Meski Kyuhyun terlihat tak acuh dan dingin pada orang lain, namun sebenarnya justru Kyuhyun-lah yang paling peduli. Kyuhyun tak ingin membuat sepupunya itu semakin 'gila' karena kehadiran gadis yang tingkat kemiripannya dengan Jong-Yeon hampir sembilan puluh persen itu.

"Aku ingin menjadi normal, Kyuhyun~a. Apa keinginanku terlalu berlebihan?" tanya Jong-Woon.

Mungkin dengan mempekerjakan gadis itu, Jong-Woon bisa menjadi lebih terbiasa dan perlahan dapat menyimpan kenangan dengan adiknya di hati saja. Masih ada kemungkinan, 'kan? Dan Jong-Woon tak dapat mengetahui hasilnya sebelum mencoba.

Jong-Woon menghela napas berat. "Namun aku tahu ini bukanlah sebuah hal yang mudah." batin Jong-Woon kemudian.

"Tadi kau bilang dapurnya di mana?" tanya gadis itu, membuat Jong-Woon tersentak.

Sebenarnya apa sih yang dari tadi ada di otak gadis itu? Bukankah Jong-Woon telah menjelaskan sebelumnya? Jong-Woon menghela napas.

"Waktumu tinggal 20 menit. Koridor depan lalu belok kiri." jelas Jong-Woon singkat, menolak keinginan kuatnya untuk memeluk gadis itu lagi. Jong-Woon rindu. Tidak. Jong-Woon sangat rindu dengan adiknya itu, meski Jong-Woon masih memiliki Jong-Jin, adiknya yang saat ini berada di luar negeri bersama kedua orang tua mereka. Entah bagaimana mereka bisa ada di luar negeri dan tak kembali. Jong-Woon belum bisa mengingat alasannya.

Gadis itu segera berlari ke arah yang ditunjukkan Jong-Woon tadi dengan tergopoh-gopoh.

"Apa yang bisa kumasak dalam waktu 20 menit?! Choi Ha-Na, berpikirlah!" gumam Ha-Na pada dirinya sendiri seraya memukul-mukul pelan kepalanya, sedangkan Jong-Woon menunggu Ha-Na di kasir dan Kyuhyun telah kembali ke ruangannya sendiri.

Jong-Woon melirik sekilas ke arah jam dinding yang tergantung sempurna di beberapa sudut ruangan. Jong-Woon sangat lelah, Jong-Woon bahkan belum tidur sejak kemarin. Salahkan saja telinganya yang terlampau sensitif dan membuat Jong-Woon menjadi orang yang susah tidur. Jong-Woon selalu tidur dini hari dan bangun sebelum subuh. Itu pun masih tak dapat disebut nyenyak. Namun kemarin, Jong-Woon sama sekali tak tidur karena sibuk mempersiapkan pembukaan restoran barunya ini.

"Hhh..." Jong-Woon kembali menghela napas dan memejamkan kedua matanya sejenak. Jong-Woon sangat lelah dan mengantuk.

"Beberapa menit setelah ini, aku akan segera tidur," batin Jong-Woon sambil sesekali melirik ke arah jam dinding.

"Kim Jong-Woon hebat, Fighting!" ucapnya pada diri sendiri.

Namun beberapa saat kemudian Jong-Woon berpikir, apa gadis itu bisa membuktikannya? Bisa! Meskipun jika kenyataan mengatakan bahwa gadis itu tak bisa. Jong-Woon akan membuat gadis itu menjadi bisa. Gadis itu harus bisa melewati tantangan ini dan harus membantu Jong-Woon untuk menjadi normal. Gadis itu harus bisa melewatinya. Bukankah ini merupakan sebuah keuntungan bagi kedua belah pihak? Gadis itu mendapat pekerjaan dan Jong-Woon mendapatkan kesembuhan mentalnya. Secara total.

Sejenak Jong-Woon memikirkan kembali tentang keputusannya. Jong-Woon benar, kan? Ini bukanlah keputusan yang salah, kan?

Jong-Woon hanya ingin menjadi pria yang normal, apa itu terlalu berlebihan? Tidak. Jong-Woon harus melakukannya. Jong-Woon akan terbiasa. Ya. Jong-Woon pasti akan terbiasa dan semuanya akan kembali seperti semula. Setidaknya hingga Jong-Woon dapat menemukan potongan-potongan ingatannya kembali.

"Errr... selesai!" ucap gadis yang tiba-tiba telah berdiri di depan Jong-Woon, dan membuat Jong-Woon --- untuk kesekian kalinya --- tersentak, karena Jong-Woon sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.

Jong-Woon melihat ke arah masakan yang dibuat gadis itu. Unik, gadis itu bisa membuat satu macam hidangan dengan penutupnya hanya dalam 20 menit. Waktu yang hampir mustahil untuk membuat sebuah masakan yang istimewa.

"Baiklah, kau berhasil. Besok mulai bekerja. Pukul empat sore hingga pukul sembilan malam. Kau sanggup?" tanya Jong-Woon tanpa menatap gadis itu.

"Aku sanggup. Tapi... tidakkah kau ingin mencicipi masakan---"

"Kau boleh pulang sekarang. Kau boleh membawa masakanmu," potong Jong-Woon dan segera meninggalkan gadis itu.

"Dia tidak mau mencicipinya?! Benar-benar menyebalkan!" gumam Ha-Na, menggerutukan sumpah serapahnya pada Jong-Woon, Bagaimana tidak? Ha-Na telah mencari cara dan mati-matian untuk membuat masakan yang enak dalam waktu yang sangat terbatas dan kini masakan itu justru tak disentuh oleh pria menyebalkan itu? Pria menyebalkan yang mungkin memiliki gangguan jiwa karena menyebut Ha-Na sebagai orang lain. Pria menyebalkan yang menyeret Ha-Na dengan jemari tangannya yang kecil. Pria menyebalkan yang tampan.

Ah, tunggu dulu! Bukankah ini hal yang bagus? Berarti Ha-Na baru saja mendapat makanan gratis, sekaligus mendapat pekerjaan, kan?

Tarik napas...Keluarkan...Bersabarlah...Ini bukanlah hal yang buruk. Kau baru saja mendapat pekerjaan.

"Dan siapa namamu?" tanya Jong-Woon dari kejauhan. Pada akhirnya Jong-Woon penasaran juga dengan nama gadis, yang ditemuinya, tersebut.

"Ha-Na! Choi Ha-Na!"

-----

"Aku pulang!" seru Ha-Na seraya membuka pintu rumahnya.

"Bagaimana? Bagaimana?" serbu Choi Ha-Young, kakak Ha-Na.

Ha-Na hanya diam dan menunjukkan makanan yang dibawanya, makanan yang telah terbungkus dengan plastik berlogo Babtols, restoran milik Jong-Woon.

"Aku berhasil! Aku bekerja di sana mulai besok!" ucap Ha-Na setengah berteriak.

"Akhirnya! Kita berdua mempunyai pekerjaan yang tetap sekarang. Syukurlah...," timpal Ha-Young sambil memeluk Ha-Na dan melompat-lompat kecil.

"Tapi, Eonni... pemilik restoran itu... sepertinya dia adalah orang yang sangat terkenal," beri tahu Ha-Na, berjalan menuju meja dan membuka bungkus dari masakan yang tadi dibuatnya.

"Benarkah? Siapa namanya?" tanya Ha-Young penasaran, sambil membantu Ha-Na membuka bungkusan plastik makanan itu.

"Kalau tidak salah, namanya Kim Jong-Woon... entahlah... aku tidak tahu." Ha-Na berjalan ke dapur untuk mengambil sendok dan garpu.

"Kim Jong-Woon? Sepertinya aku pernah mendengar namanya. Apa dia seorang penyanyi?" tanya Ha-Young sambil mencolek masakan yang dibawa Ha-Na dengan ujung jarinya.

"Penyanyi yang terbaik hanya Yesung Oppa!" seru Ha-Na antusias.

"Aish, kau ini! Padahal kau sendiri tak pernah tahu bagaimana wajah Yesung itu," cibir Ha-Young pada Ha-Na yang selalu memuja-muja suara Yesung, idola Ha-Na.

"Yang terpenting dari seorang penyanyi adalah suaranya! Aku tidak perlu tahu bagaimana sosok aslinya. Suaranya benar-benar hebat," ujar Ha-Na lagi.

"Kau bahkan mempunyai lagunya karena So-Ra yang selalu mengirimkannya ke mp3 player ponselmu," ejek Ha-Young.

"Aish, sudahlah. Ayo kita makan! Ini gratis!"

"Gratis?" tanya Ha-Young sambil mengambil sendok yang tadi diberikan Ha-Na dan segera memakan makanannya.

"Ah, pantas saja. Ini masakanmu, kan? Kau yang membuatnya, kan?" sergah Ha-Young sambil terus menyantap masakan adiknya.

"Tentu saja. Aku harus berterima kasih padamu karena telah mengajariku hal seperti ini!" ucap Ha-Na.

"Meskipun dari segi penampilan kau memang tak terlihat seperti orang yang pintar memasak," tambah Ha-Na lagi.

"Pletak!" Sendok pun menghantam kepala Ha-Na.

-----

"Hyung..." panggil Kyuhyun sambil menyentuh bahu Jong-Woon yang sedang berdiri di depan jendela, bergeming.

"Ya?" jawab Jong-Woon, masih tak berbalik sekadar melihat Kyuhyun.

"Kau menerima lamaran pekerjaan gadis tadi?"

Hingga hampir selarut ini, mereka masih berada di restoran. Tepatnya masih berada di ruangan Jong-Woon. Kyuhyun tahu, sepupunya itu pasti berdiam diri dan membutuhkan 'ketenangan'. Sudah hampir dua tahun, dan sepupunya itu masih belum mendapatkan potongan-potongan ingatannya. Jika saja mengembalikan ingatan Jong-Woon semudah membalikkan telapak tangan, pasti Kyuhyun telah melakukannya sejak lama.

"Seperti yang kau lihat," ucap Jong-Woon sambil menghela napas panjang.

"Choi Ha-Na... kau bahkan tak membaca dokumen-dokumen ini dengan baik, Hyung," gumam Kyuhyun sambil membolak-balik file yang tadi diajukan oleh gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Jong-Yeon itu.

"Aku tak membutuhkan dokumennya. Aku membutuhkan gadis itu," gumam Jong-Woon pelan, masih tak tertarik untuk sekadar membaca dokumen itu.

"Dia bahkan masih sekolah, Hyung, bagaimana bisa kau menerimanya semudah itu?" tanya Kyuhyun lagi, masih terus membaca biodata dan lembaran-lembaran lain yang disertakan Ha-Na dalam surat lamaran pekerjaannya.

Jong-Woon hanya diam, tak ingin menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut sepupunya itu. Karena Jong-Woon tahu betul kesalahannya. Jong-Woon sebenarnya adalah tipe orang yang sangat pemilih dalam mempekerjakan orang. Namun untuk gadis itu. Gadis itu adalah sebuah pengecualian.

"Hyung, bukankah ini berbahaya?" Kyuhyun masih menyandarkan tubuhnya ke meja kerja Jong-Woon, sedangkan yang diajak berbicara nampaknya lebih tertarik dengan pemandangan di luar jendela dan semut-semut kecil yang berkoloni.

"Buka saja lembaran baru, Hyung. Ini hanya akan membuatmu menderita," ucap Kyuhyun lirih. Sangat lirih, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Jong-Woon.

"Jika kau berada di posisiku, tidakkah kau akan melakukan hal yang sama denganku, Kyuhyun~a?" tanya Jong-Woon, kali ini berbalik dan berjalan ke arah Kyuhyun.

"Tidak jika itu dapat membahayakanku, Hyung," jawab Kyuhyun sambil mendongak ke arah Jong-Woon, yang kini berdiri di depan Kyuhyun.

"Apa kau yakin dapat mengatakan kalimat itu jika kau sungguh berada di posisiku? Dan melupakan semua kenangan yang telah ada? Keluargamu, sahabatmu, orang yang dekat denganmu? Orang yang kau cintai? Kau ingin melupakan semua itu, begitu saja? Adikku berlumuran darah. Yang bisa kuingat hanya itu. Kenapa kalian tak pernah memberitahu apa pun padaku?!" tuntut Jong-Woon dengan nada meninggi.

"Itu demi kebaikanmu, Hyung," ujar Kyuhyun yang segera berdiri dari posisinya. Kyuhyun menggeram pelan. Bagaimana bisa Kyuhyun memberitahukan semuanya pada Jong-Woon jika karena mengingat adiknya sendiri saja mungkin Jong-Woon bisa mati? Bagaimana Kyuhyun sanggup melihat Jong-Woon mengerang lagi? Bagaimana bisa?

"Pulanglah," ucap Jong-Woon setelahnya.

Kyuhyun menghela napas. Kyuhyun tahu, jika Kyuhyun terus melanjutkan perdebatan dalam keadaan emosi seperti saat ini, pasti takkan menghasilkan kebaikan apa pun. Jadi Kyuhyun berjalan perlahan menuju pintu, menyentuh kenop, terlihat berpikir sebentar, lalu menoleh lagi.

"Dengar, Hyung, aku sama sekali tak ingin menghapus apa pun dari ingatanmu. Aku hanya melakukan ini karena aku tak ingin melihatmu melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan dirimu sendiri, Hyung. Aku akan terus menceritakan semuanya dan mengembalikan ingatanmu, jika aku dapat melakukannya tanpa melukaimu. Namun kenyataannya tak bisa seperti itu. Setidaknya, jagalah dirimu sendiri dengan baik, Hyung. Jika kau tak dapat melakukannya demi dirimu sendiri, lakukan itu demi aku. Demi Jong-Yeon," ucap Kyuhyun panjang lebar, lalu segera menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Jong-Woon yang terdiam, terlihat sedang memikirkan kalimat Kyuhyun tadi.

-----

"Drrrrrt.... Drrrrrtt" Jong-Woon melirik ponselnya yang terus bergetar di atas meja, yang menunjukkan bahwa ada orang yang sedang menghubunginya. Jong-Woon terlihat menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol hijau yang terus menyala di ponsel miliknya.

"Halo?" Suara dari seberang, tanpa melihat caller ID pun Jong-Woon sudah tahu betul siapa pemilik suara ini.

"Hmmm, Nuna7," ucap Jong-Woon datar.

"Jong-Woon~a... bisa kau temani aku?" ucap wanita dari seberang.

"Di mana?" tanya Jong-Woon, yang bahkan tak terdengar seperti sebuah pertanyaan karena nada yang diucapkan Jong-Woon begitu datar. Terlalu datar.

"Di apartemenku. Cepat! Aku sangat pusing," ucap suara itu.

"Apa kau sedang mabuk?"

"Tut... tut... tut...."

Sekali lagi Jong-Woon menghembuskan napas berat. Wanita itu lagi. Wanita yang mungkin bisa membuat Jong-Woon gila untuk kedua kalinya, setelah kematian Jong-Yeon. Karena nyatanya wanita itu datang setelah Jong-Woon terpuruk dan kehilangan hampir seluruh ingatannya.

Belum lama, wanita itu hadir dalam hidup Jong-Woon. Namun sayang sekali, wanita itu memegang kartu penting yang sangat berpengaruh terhadap karier Jong-Woon sebagai penyanyi bersama sepupunya, Kyuhyun.

Dan suatu kesalahan yang besar, sebenci apa pun Jong-Woon terhadap wanita itu, tetapi tetap saja, wanita itu sudah membuat Jong-Woon jatuh cinta padanya.

Jong-Woon mengetikkan beberapa baris kalimat, sebelum akhirnya menekan tombol bertuliskan KIRIM di fitur ponselnya.

KEPADA: Jae-Na Nuna

Aku sibuk.

Mencoba menghindari wanita itu, mencoba menghilangkan perasaannya terhadap wanita gila itu. Tetapi gagal. Jong-Woon belum bisa memusnahkan perasaan yang bahkan wanita itu sendiri tak menyadarinya.

-----

DARI: Jong-Woon

Aku sibuk.

"Apa ini? Jong-Woonie berani menolakku?" sergah Jae-Na sambil sesekali menenggak bir di atas meja. Jae-Na mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak boleh! Pria itu tak boleh menolak Jae-Na barang sekali pun!

KEPADA: Jong-Woon

Kau harus datang. Jika tidak, aku akan membocorkan tindak kriminalmu ke media!

Pria itu harus membayar Jae-Na! Pria itu yang telah membuat Jae-Na seperti ini, pria itu yang telah membunuh kekasih Jae-Na. Dan sialnya lagi, pria itu juga telah membuat Jae-Na jatuh cinta dan tergila-gila. Pria itu harus menggantikan posisi kekasih Jae-Na. Pria itu harus menjadi milik Jae-Na!

DARI: Jong-Woon

Tunggu.

Jae-Na tersenyum lagi dan segera menuangkan bir ke dalam gelas, menenggaknya hingga tak tersisa.

"Aku tahu kau pasti akan datang, Jong-Woonie. Jika bukan untuk kariermu, maka itu untuk karier sepupumu. Kau harus menjadi milikku!"

-----

Jong-Woon menatap layar ponselnya datar, sama sekali tak menunjukkan raut senang, marah, kecewa, ataupun sedih.

Bukan karena ancaman itu Jong-Woon mau datang, bukan karena kariernya juga. Wanita itu bahkan belum memiliki bukti untuk melaporkan Jong-Woon ke pihak yang berwajib. Bukan karena semua itu Jong-Woon selalu datang. Namun karena sesungguhnya Jong-Woon memang ingin datang dan menyadarkan wanita itu dari segala kegilaannya. Meski Jong-Woon sendiri memang bukanlah orang yang normal.

Jong-Woon hanya bersembunyi di balik topeng beku itu. Orang-orang sama sekali tak dapat membaca apa yang ada di pikiran Jong-Woon.

Jong-Woon mengambil kunci mobil, dan berjalan keluar ruangan, menuju apartemen wanita --- yang bahkan menyebut namanya pun sejujurnya enggan Jong-Woon lakukan --- itu. Namun tetap saja, nama itu selalu muncul di benak Jong-Woon. Im Jae-Na. Wanita gila itu.

-----

"Klek..."

Pintu ruangan itu sedikit terbuka dan Jong-Woon segera menutup hidung dengan punggung tangannya begitu mencium aroma alkohol yang sangat menyengat. Aroma yang paling dibenci Jong-Woon.

Jong-Woon segera berjalan masuk, dan dilihatnya wanita itu. Yang sedang duduk dengan kepala tersandar ke meja, seakan mengangkat kepala adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan.

"Jong-Woonie, kau datang?"

Jong-Woon hanya mendengus dan duduk di depan wanita itu, mencoba mengeluarkan sisi baiknya dan melarang sisi setannya menguasai dirinya lebih jauh.

"Nuna, sudah kubilang, jangan meminum minuman seperti ini," ucap Jong-Woon.

"Kau... kembalikan kekasihku..." racau Jae-Na pada Jong-Woon.

Jong-Woon menghela napas. Kembalikan kekasihnya? Jae-Na menyuruh Jong-Woon mengembalikan kekasihnya? Apa wanita ini sudah benar-benar gila sekarang?!

"Jika kekasihmu ada di sini, apa kau yakin kau masih bisa hidup saat ini, huh?" cela Jong-Woon sambil mengambil paksa botol bir dari tangan Jae-Na.

"Kau harus menggantikan posisinya... Kau... harus....," ucap Jae-Na.

"Aku tidak bisa. Aku tidak mau," jawab Jong-Woon sekenanya.

Sebesar apa pun cinta yang dimiliki Jong-Woon terhadap Jae-Na,wanita itu tetaplah wanita yang paling dibenci Jong-Woon. Benar-benar perasaan yang berbanding terbalik. Yang dapat terlihat dengan jelas pada Jong-Woon.

"Jong-Woonie..." racau Jae-Na.

"Kau masih seperti ini karena laki-laki itu, huh? Kau bahkan seharusnya sudah mati sekarang, jika aku tak melakukan hal itu." ucap Jong-Woon dengan nada datar.

"Aku mencintainya. Dan aku mencintaimu.. Apa yang harus aku lakukan?" tanya wanita itu. Dan Jong-Woon hanya melirik wanita itu sekilas.

"Aku tidak peduli." Jong-Woon segera mengangkat tubuh Jae-Na dan membuka pintu kamar wanita itu. Jong-Woon hanya meletakkan wanita itu dan menyelimutinya. Jauh dari kalimat tak acuh yang selalu dilontarkan Jong-Woon, jauh dari ekspresi dingin yang selalu diperlihatkan Jong-Woon. Jong-Woon peduli.

Dan di balik senyum yang selalu diumbar Jong-Woon saat bekerja, Jong-Woon sangat dingin. Bagai es terdingin yang sangat susah untuk dilelehkan dengan api sekalipun.

"Grepp.."

Wanita itu meraih pergelangan tangan Jong-Woon, saat Jong-Woon bergegas untuk keluar dari ruangan itu.

"Jangan pergi... temani aku... Jong-Woonie..." Jong-Woon diam. Jong-Woon hanya melepas pegangan wanita itu dari tangannya dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

-----

"Hyung, kau baru sampai?" sapa Kyuhyun begitu melihat Jong-Woon yang membuka pintu kamarnya.

Tanpa diketahui Kyuhyun, Jong-Woon selalu memastikan keadaan orang-orang di sekitarnya. Jong-Woon selalu membuka pintu kamar Kyuhyun hanya untuk memastikan bahwa adik sepupunya itu telah tidur dengan nyenyak.

"Hm..." sahut Jong-Woon dan bergegas menutup kembali pintu kamar Kyuhyun. Namun sepertinya pergerakan Kyuhyun lebih cepat hingga dapat menahan pintu itu.

"Bau alkohol. Kau menemui wanita itu lagi?" tanya Kyuhyun. Tebakkan Kyuhyun benar, karena Jong-Woon paling tidak bisa meminum minuman yang seperti itu. Tak seperti Kyuhyun yang bahkan masih belum mabuk meski sudah meminum minuman itu beberapa gelas, Jong-Woon langsung memuntahkan semua isi perutnya jika Jong-Woon meminum minuman seperti itu. Kemampuan Jong-Woon dalam bidang alkohol sangat payah.

"Mmmm.." jawab Jong-Woon lagi, berjalan menuju kamarnya sendiri. Dan kali ini, Kyuhyun mengikuti Jong-Woon. Sebenarnya Kyuhyun mengantuk, sesaat sebelum Jong-Woon memeriksanya tadi, namun begitu mendengar bahwa Jong-Woon baru saja menemui wanita yang tak disukainya itu, rasa kantuk Kyuhyun hilang.

"Sudah kukatakan berapa kali padamu, Hyung, jangan menemui wanita gila itu lagi. Aku tak peduli dengan karier kita sebagai penyanyi. Aku hanya tak ingin kau terlibat lebih jauh dengan wanita yang seperti itu. Aku sangat tidak menyukai wanita itu, Hyung."

Jong-Woon segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Jong-Woon cukup lelah hari ini. Jong-Woon baru saja melihat sosok gadis yang sangat mirip dengan adiknya, dan Jong-Woon kembali dibingungkan oleh perasaannya sendiri terhadap Jae-Na. Cinta? Jong-Woon mencintai Jae-Na?

"Hyung, kau tak perlu sebaik ini pada wanita itu. Sudah kukatakan bahwa hal itu bukan kesalahanmu," lanjut Kyuhyun, namun Jong-Woon tetap diam tak menjawab.

Jong-Woon membiarkan air shower mengguyur tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Jong-Woon mencoba mendinginkan pikirannya yang terbakar hari ini. Hal itulah yang sering dilakukan Jong-Woon. Menulikan pendengarannya dari pendapat orang lain. Sejak Jong-Woon gila dan selalu mendapat ejekan dari banyak pihak, kebiasaan itu telah muncul begitu saja, tanpa Jong-Woon sadari.

"Tidurlah!" seru Jong-Woon dari dalam kamar mandi, membuat Kyuhyun harus kembali bersabar, dan menghela napas.

-----

"Tidak!! Jangan sentuh aku!! Menjauh!! Pergi!!!" jerit Jae-Na pada pria yang menyobek kaos bagian atasnya itu.

"Kau... milikku... Jadi kau harus memberikan segalanya untukku!" ujar pria itu sambil terus memojokkan Jae-Na ke sudut ruangan.

"Kumohon, siapapun tolong aku!" jerit Jae-Na dan terus mencoba menghindari pria itu. Jae-Na harus berlari menjauh! Jae-Na harus menyelamatkan harga dirinya. Tidak. Seberapa pun Jae-Na mencintai pria itu, Jae-Na tak boleh berakhir seperti ini, hal yang seperti ini tak boleh terjadi!

"Klik.." Jae-Na menekan tombol di ponselnya untuk menelepon seseorang, siapapun itu.

"Halo?" Terdengar suara dari seberang.

"Jong-Woonie? Ini kau? Kumohon datanglah! Bantu aku! Kumohon----"

"PRANGGG!"

Ponsel itu pun terjatuh ke lantai.

"Beraninya kau menelepon orang lain di saat seperti ini, huh? Ini adalah saat bagi kita berdua!" ucap pria itu, masih membawa botol bir di tangannya. Menandakan bahwa pria itu tidak berada dalam keadaan sadar sepenuhnya.

"Sadarlah! Kumohon! Ini salah!" jerit Jae-Na tak karuan, ketika pria itu lagi-lagi berhasil menyudutkan Jae-Na.

"Kau... milikku!" ucap pria itu sebelum memulai kembali aksinya.

"BUGGGH!"

Jae-Na berhasil menendang pria itu. Jae-Na harus bertahan. Jae-Na harus tetap bertahan. Ini benar-benar salah, tidak boleh seperti ini. Tidak boleh!

"Tolong aku!!! Kumohon, siapapun tolong aku!!!" teriak Jae-Na sambil berlari menuju pintu, mencoba membukanya walau hasilnya nihil. Pintu itu terkunci.

"Tolong aku!!!" racau Jae-Na masih memukul-mukul pintu itu. Seakan pintu itu mengerti dan dapat membantu Jae-Na.

"Jae-Na~ya... aku di sini untukmu... Kau milikku..."

Tidak. Pria itu datang lagi.

"Tolong aku! Kumohon tolong aku!!! Tolong!!!" jerit Jae-Na semakin keras.

"Nuna?"

Suara itu... Jong-Woon!

"Jong-Woonie... tolong aku!!!" jerit Jae-Na, semakin keras memukul-mukul pintu

"Nuna! Pintunya dikunci! Menjauhlah dari pintu! Aku akan mendobraknya!!!" teriak Jong-Woon.

Jae-Na akhirnya menurut, namun karena Jae-Na tak bisa berkelit lagi pria itu akhirnya berhasil mendapatkan Jae-Na.

"BRAKKK"

Pintunya berhasil dibuka.

"Nuna!" Jong-Woon kaget atas keadaan apartemen ini. Benar-benar berantakan. Dan pria itu! Apa yang sedang dilakukan pria itu? Dengan refleks, Jong-Woon mengambil satu dari beberapa botol bir milik pria itu, yang berada di atas meja. Dan...

"PRANGGG!"

Pria itu tersungkur. Tepat di depan Jae-Na.

"Jong-Woonie, apa yang kau lakukan?" jerit Jae-Na.

Tidak. Tidak mungkin, Jong-Woon tidak mungkin melakukan hal itu. Tidak. Jong-Woon tak membunuh pria itu.

"Jong-Woonie, kau membunuhnya! Kenapa kau membunuhnya?!!" jerit Jae-Na sambil terus mengguncang tubuh Jong-Woon yang masih terdiam di tempatnya.

"Tidak. Aku tak membunuhnya! Aku tak membunuhnya! Aku bukan pembunuh!" racau Jong-Woon sambil melempar bekas botol bir yang dipegangnya hingga hancur berkeping-keping.

-----

"Tidak! Aku bukan pembunuh!" jerit Jong-Woon dan segera terbangun dari mimpinya.

Jong-Woon meremas kasurnya. Keringat dingin meluncur begitu saja, membasahi rambut hitamnya. Jong-Woon mencoba menenangkan pikirannya, namun gagal.

"Kau menyedihkan, Kim Jong-Woon!" maki Jong-Woon pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya. Frustasi.

"BRAKK!"

Kyuhyun datang, masih dengan handuk yang tergantung di lehernya. Kyuhyun membawa segelas air sekadar untuk menenangkan Hyung-nya itu. Hal ini sudah hampir menjadi rutinitas setiap pagi.

"Hyung, kau mimpi buruk lagi?" tanya Kyuhyun sekadar basa-basi. Untuk apa Kyuhyun bertanya jika Kyuhyun sendiri sudah tahu jawabannya, kan?

Jong-Woon masih terengah-engah dan mengelap keringat dengan punggung tangannya secara kasar, namun Jong-Woon segera mengambil air minum yang disodorkan Kyuhyun dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Jong-Woon terlihat seperti orang yang telah berkelana di tengah gurun pasir.

"Aku akan mandi," ucap Jong-Woon yang segera bergegas menuju kamar mandi.











Awal Kehidupan Baru



"Choi Ha-Na... bangun dan bersiaplah ke sekolahmu!" seru Ha-Young sambil menggoyang-goyangkan tubuh adiknya yang sedang tertidur. Adiknya itu seperti beruang yang sedang berhibernasi jika sedang tidur seperti itu. Suara keras sepertinya masih kurang ampuh untuk membangunkan Ha-Na.

Dan sudah bisa ditebak. Apa reaksi Ha-Na setelah Ha-Young membangunkannya. Belum ada jawaban.

"Choi Ha-Na! Bangunlah! Aku membuatkan masakan kesukaanmu!" kali ini Ha-Young berteriak.

Masih belum ada jawaban.

"Ha-Na~ya!!!"

"BUGHHH"

"Aku sudah memperingatkanmu," sergah Ha-Young, dan segera keluar dari kamar Ha-Na.

Ha-Na masih setengah sadar begitu Ha-Na merasakan sakit di pinggang dan pantatnya. Dan Ha-Na baru menyadari bahwa Ha-Na sudah berada di atas lantai. Aish! Pasti kakaknya telah menendang Ha-Na dari tempat tidur. Lagi. Apa kakaknya itu tidak bosan menendang Ha-Na terus setiap hari? Namun benar saja, jika tak ditendang hingga jatuh seperti itu, susah sekali membangunkan beruang yang satu ini.

"Choi Ha-Young! Kau menyebalkan!!!" jerit Ha-Na dari kamarnya, sedangkan Ha-Young yang sudah berada di depan rumah justru tertawa sangat keras. Rasakan!!! Salah sendiri. Bukankah Ha-Young sudah membangunkan Ha-Na berulang kali? "Mungkin akan bagus jika aku menjadi pemain sepak bola dan Ha-Na menjadi bolanya," batin Ha-Young dalam hati sambil terkekeh sendiri.

"Aku berangkat duluan, Sayang!" jerit Ha-Young dari luar disertai tawa jahil.

Ha-Na meraba kepalanya, rasanya ada yang menyangkut atau menempel di rambutnya. Ah, ternyata ada catatan di poninya.

Makananmu sudah siap.

Ada di atas meja. Aku baik, 'kan? -^^-

"Aish. Kau takkan menendangku jika kau memang orang yang baik!" seru Ha-Na, bergegas mandi. Namun Ha-Na menemukan catatan kecil lagi di pintu kamar mandi.

Anak pintar!

Mandilah dulu, baru makan! -^^-

"Aku tahu... aku tahu... Terkadang kau lebih terlihat seperti adikku, jika seperti ini," gumam Ha-Na.

Aku tahu bahwa aku memang terlihat lebih muda darimu!

Kekeke...

Astaga! Catatan itu lagi. Apa kakaknya itu bisa membaca pikiran, ya?

-----

"BLAMM!"

Terdengar suara pintu yang tertutup agak keras, dan seketika itu pula para anggota pertemuan organisasi sekolah itu melihat ke arah sang ketua panitia yang terlambat.

"Ah, maaf. Tadi ada pelajaran tambahan setelah pulang sekolah, jadi aku sedikit terlambat untuk datang ke ruang pertemuan," ucap Ha-Na sambil membungkuk.

"Tidak apa, kami juga sedang mendiskusikan tentang siapa yang akan diundang ke Pentas Seni sekolah kita," jawab Dae-Hyun, salah satu anggota pertemuan.

"Kalau begitu, boleh aku lihat catatan keuangannya? Berapa dana yang sudah terkumpul saat ini?" tanya Ha-Na dan segera duduk di kursinya.

"Sangat banyak, di sini datanya. Kami juga tak menyangka bahwa dana yang terkumpul bisa sebanyak ini." ucap So-Ra, teman sebangku Ha-Na sekaligus bendahara organisasi.

Ha-Na melihat catatan itu dengan mata berbinar. Ah... andai saja... hanya andai saja jika uang itu milik Ha-Na, pasti Ha-Na sudah dapat melunasi sewa apartemennya untuk beberapa bulan. Ha-Na jadi heran sendiri, dari mana anak-anak sekolahan seperti mereka bisa menyumbang hingga terkumpul dana sebanyak ini? Jika Ha-Na mengadakan sumbangan untuk sewa apartemennya, apa mungkin juga akan terkumpul sebanyak ini, ya? Aish, Choi Ha-Na, jernihkan pikiranmu!

"Jika kita mempunyai dana sebanyak ini, kita bahkan bisa mensponsori Yesung Oppa untuk hadir...," gumam Ha-Na, meskipun Ha-Na tak yakin juga apakah penyanyi papan atas seperti Yesung mau datang ke acara sekolah. "Kau juga berpikir begitu?" tanya Dae-Hyun yang menatap Ha-Na dengan pandangan yang seolah mengatakan 'sama denganku!'.

Ha-Na mengangguk.

"Kita sudah mengurus masalah tata panggung dan memperkirakan biayanya. Jika dana yang tersisa masih sebanyak ini, kenapa tak sekalian saja kita undang penyanyi papan atas? Ini juga untuk menarik minat pengunjung. Dan hal ini juga sebagai pemacu untuk dana masuk dari beberapa kios kita di acara kali ini. Bukankah ini adalah sebuah keuntungan yang besar?" usul Ha-Na. Setelah Ha-Na mengucapkan hal itu, baru Ha-Na cerna sendiri kalimat yang diucapkannya. Terkadang mulut Ha-Na memang bekerja lebih dulu daripada otaknya.

"Benar juga. Bagaimana kalau kita ambil suara saja sekarang?" tanya So-Ra.

"Atau ada usul lain dalam pemecahan masalah kali ini?" tanya Ha-Na terlebih dahulu.

Ha-Na melihat ke arah para anggotanya satu per satu, barangkali akan ada yang menambahkan atau bahkan menolak usul Ha-Na, karena Ha-Na tak ingin menjadi pemimpin yang hanya mementingkan pendapatnya sendiri. Namun sepertinya tak ada yang berniat untuk menolak usul Ha-Na tadi.

"Baiklah, ayo kita hitung. Yang setuju?" tanya Ha-Na.

Beberapa anak terlihat mengacungkan tangan. Tanpa dihitung pun Ha-Na sudah tahu hasilnya. Namun Ha-Na tetap menghitungnya untuk mengakuratkan hasil. Benar saja, hampir semua anggota pertemuan setuju dengan usul ini. Berarti mereka juga berharap pada Yesung, seperti Ha-Na. Semoga Yesung benar-benar mau datang!

"Baiklah. Bagian promosi dan sponsor, bersiaplah!" seru Ha-Na sambil tersenyum senang.

-----

"Wah... ternyata aku memang hebat!" gumam Ha-Na yang baru saja keluar dari ruang pertemuan. Memuji diri sendiri tak akan membuat Ha-Na dipenjara, 'kan?

"Kerja bagus, Ha-Na~ya!" ucap Dae-Hyun yang tiba-tiba sudah ada di belakang Ha-Na.

Dae-Hyun. Laki-laki itu termasuk siswa terbaik di sekolah dengan prestasi yang gemilang di bidang akademik maupun non akademik. Banyak sekali gadis yang mengincar Dae-Hyun, namun dengan mata telanjang pun sudah dapat dilihat, bahwa yang dikejar oleh Dae-Hyun adalah Choi Ha-Na, ketua organisasi sekolah yang kasar itu.

"Kau juga, Hyunie!" ucap Ha-Na sambil menyenggol lengan Dae-Hyun dengan keras, membuat Dae-Hyun hampir saja menabrak gadis yang lewat di sebelahnya. "Gadis ini badannya kecil tapi kuat juga," pikir Dae-Hyun.

"Kenapa kau memanggilku seperti bayi lagi, huh?" ucap Dae-Hyun dan menjentikkan jari telunjuknya ke dahi Ha-Na.

"Ingin saja," jawab Ha-Na dan bergegas berjalan lebih cepat, berniat untuk meninggalkan Dae-Hyun yang berjalan hampir seperti siput.

"Tunggu!" seru Dae-Hyun dan segera menarik tangan Ha-Na.

"Kau ada acara hari ini? Aku punya dua buah tiket menonton film," ujar Dae-Hyun sambil menunjukkan tiket yang dibawanya.

"Ah, maafkan aku. Aku harus bekerja sepulang sekolah. Lain kali saja, ya?" ucap Ha-Na lalu segera berlari, meninggalkan Dae-Hyun yang hanya bisa mamandangi punggung Ha-Na, yang berjalan semakin menjauh. Dan lama kelamaan tak lagi bisa dilihat oleh Dae-Hyun.

"Tidak bisakah kau menerima ajakanku satu kali saja?" gumam Dae-Hyun, yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

-----

"Tik tok Tik tok..."

Hanya bunyi jarum jam yang terdengar di rumah megah itu, sedangkan Jong-Woon sibuk berguling-guling di depan TV yang menyala, dengan headset di salah satu sisi telinganya, sebuah komik di tangan kanannya, dan ponsel yang sedang menampakkan aplikasi permainan di tangan kirinya.

Jong-Woon sangat bosan!

Hari ini Kyuhyun memiliki jadwal individu, yang artinya hanya tinggal Jong-Woon dan beberapa pelayan yang ada di rumah Jong-Woon sore ini. Pelayan pun hanya mondar-mandir dan membersihkan rumah di sana-sini, seakan rumah itu tak pernah bersih saja.

Ini yang paling di benci oleh Jong-Woon. Hal ini yang paling dibenci Jong-Woon, hal yang paling paling dibenci Jong-Woon, paling paling paling dibenci Jong-Woon!

Sendirian.

Jong-Woon bisa menjadi benar-benar gila dan menambah tingkat ketidaknormalannya jika Jong-Woon terus didiamkan dalam keadaan sendirian. Apalagi dalam waktu yang lama. Hal terakhir yang dilakukan Jong-Woon karena terlalu bosan beberapa bulan yang lalu adalah mengajak seluruh binatang peliharaannya, dua ekor anjing dan tiga ekor kura-kura untuk berkencan di meja makan. Lengkap dengan lilin-lilin yang dibuat seromantis mungkin.

Baiklah, ini memang hal yang gila, dan tidak normal.

Namun bukankah pria itu memang gila dan tidak normal, huh?

"Natt! Kemarilah!!!" seru Jong-Woon yang masih dengan posisinya yang hampir menggulung karpet yang ditindihnya. Jong-Woon bisa menjadi nasi gulung kalau begini jadinya.

"Ya, Tuan Muda?" Natt, selaku asisten pribadi dan sopir Jong-Woon --- walaupun sebenarnya Jong-Woon bisa menyetir sendiri --- itu pun datang dengan sigap. Entah untuk keberapa kalinya Jong-Woon mengatakan bahwa mereka adalah teman, dan bersikap seperti biasa saja. Dan entah untuk keberapa kalinya juga Natt melupakan hal yang satu itu, meski ingatan Natt sangat baik dalam hal yang lainnya.

"Temani aku menonton film ini," suruh Jong-Woon, kembali memasang wajah serius Jong-Woon begitu menemukan dirinya dalam posisi, yang bisa dibilang, sangat memalukan.

"Kau bosan?" tanya Natt.


Purchase this book or download sample versions for your ebook reader.
(Pages 1-31 show above.)